Program PMT Disiapkan untuk Turunkan Stunting

FOKUS: Terlihat peserta sedang memasak saat lomba cipta menu untuk Program PMT berbahan lokal di Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.m(ANTARA/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) sebut adanya program pemberian makanan tambahan (PMT) untuk penanganan angka stunting bagi warga miskin. Pihaknya mengatakan, di setiap kalurahan disediakan dapur untuk memasak makanan penambah gizi bagi anak terdampak stunting.

Kepala DP3APPKB Ninik Istitarini mengatakan, ada beberapa penyebab anak yang terdamapak stunting di Bantul. Pertama, kekurangan asupan gizinya yang juga dimungkinkan sudah dimulai sejak dalam kandungan. “Jadi kalau kurang gizi itu mulai dari ibu hamil, sehingga pada saat lahir, bayinya berisiko terhadap stunting. Hal ini bisa di tandai dengan panjang dan berat bayi,” ungkapnya, belum lama ini.

Baca juga:  Libur Produktif, Kreasi Literasi Anak Digelar

Kemudian, penyebab lain yaitu pola asuh yang salah pada saat bayi lahir sampai dengan baduta atau di bawah usia dua tahun. Salah dalam melakukan proses pengasuhan ini juga sangat berisiko terhadap stunting.

“Pola asuh itu yang salah itu bisa pemberian makanan yang salah, kemudian mungkin tidak dikasih sendiri oleh orang tuanya. Sehingga mungkin tidak diperhatikan asupan makanan apa yang tepat bagi bayi tersebut,” jelasnya.

Selain itu, kesehatan lingkungan juga dinilai memberikan pengaruh. Karena pada kondisi lingkungan yang tidak sehat, baik itu sanitasi mampu air bersih, hal itu bisa menyebabkan bayi tersebut mengalami diare maupun infeksi.

Baca juga:  Beri Kontribusi Nyata SDGs dengan Eco Enzyme

Selanjutnya, kata Ninik, faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi stunting yakni bayi yang dilahirkan dari ibu yang belum mencapai usia matang. Yang mungkin disebabkan karena pernikahan anak dan kehamilan tidak dikehendaki. Sehingga kesiapan ibu di bawah umur tersebut secara persiapan fisik maupun mentalnya kurang baik.

“Ibu hamil itu kan sejak dia pertama kali dinyatakan hamil harus kemudian diperiksakan kehamilannya di fasilitas kesehatan. Sehingga, kalau yang bersangkutan tidak pernah atau terlambat memeriksakan kehamilannya ke fasilitas kesehatan, hal seperti itu otomatis menyebabkan asupan gizi pada bayinya itu berpengaruh,” terangnya.

Baca juga:  Kembangkan Potensi Masyarakat lewat Kotagede Mencari Bakat

Selain dampak di atas, masalah ekonomi juga menjadi dampak serius bagi peningkatan stunting. Namun pihaknya mengatakan, untuk kasus ini sudah disiapkan program penanganannya yakni Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

“Pemerintah sudah punya program PMT yang dikhususkan bagi ibu hamil dan balita stunting yang disalurkan oleh Dinkes melalui puskesmas. Itu diberikan terutama bagi yang masuk dalam kategori miskin. Di setiap kalurahan sudah ada dapur untuk memasak makanan PMT bagi balita stunting,” tandasnya. (nik/abd)