Jepara  

DP3AP2KB Jepara Minta Orang Tua Awasi Anak saat Libur Sekolah

JELASKAN: Plh Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Jepara Hadi Sarwoko saat ditemui dikantornya, belum lama ini. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Momen liburan sekolah, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara mengingatkan orang tua agar lebih memperhatikan anak-anak mereka. Hal itu dilakukan agar mereka tidak terlibat dalam kegiatan negatif.

Plh Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko menjelaskan, tidak bisa dipungkiri bahwa momen liburan sekolah, anak cenderung lebih senang bermain dengan gadget. Dengan itu, orang tua harus lebih ketat dalam mengawasi serta membatasi daripada penggunaan gadget oleh anak.

“Faktor gadget, digitalisasi, dampaknya sangat luar biasa. Anak dengan mudah mengakses dan bermain handphone dengan sendirinya tanpa sepengetahuan orang tua,” jelas Hadi kepada Joglo Jateng.

Baca juga:  Pemkab Jepara Berharap Prestasi Cabor Woodball Meningkat

Menurut Hadi, apabila seorang anak berlebihan dalam menggunakan gadget, maka bisa menimbulkan berbagai dampak negatif. Seperti penurunan konsentrasi anak, kurangnya respon saat diajak berbicara, serta kurangnya keaktifan saat di sekolah.

Selain orang tua bertugas mengawasi kegiatan anak, kata Hadi, bukan tanpa alasan, satuan pendidikan atau guru juga memiliki peran untuk memberikan arahan. Agar siswa-siswinya bisa bijak dalam memanfaatkan waktu saat libur sekolah.

“Lingkungan pendidikan juga sama, mereka punya tugas untuk mengawasi muridnya. Tegakkan kurikulum pengawasan, termasuk pada penggunaan handphone, kapan dan bagaimana murid bisa menggunakannya. Lebih tepatnya monitoring,” tegasnya.

Baca juga:  Pemkab Jepara Perintahkan Pemdes Sisir Anak Tidak Sekolah

Lebih lanjut, untuk memberi arahan agar anak-anak bisa menggunakan waktu libur sekolah dengan sebaik mungkin. Hadi membeberkan bahwa gerakan kembali ke meja makan bisa menjadi momen quality time bersama keluarga. Lantaran, kegiatan itu bermanfaat untuk mentransformasikan nilai-nilai keluarga kepada anak-anak.

Anak punya saluran untuk mencurahkan persoalan yang terpendam. Orang tua bisa membimbing untuk menyelesaikan setiap persoalan yang muncul.

“Program kembali ke meja makan itu yang perlu diperhatikan. Kenapa, karena selama ini jarang keluarga yang makan bersama dengan suami, istri, dan anak. Kalau kembali ke meja makan, bisa berinteraksi. Orang tua bisa memberi nasihat kepada anak-anaknya,” tutupnya. (cr4/fat)