Jepara  

Pemkab Jepara Pastikan Ketersediaan Gas Melon Aman

MENATA: Pegawai di Pangkalan Jepara tengah menata gas yang akan di distribusikan ke setiap wilayah Kabupaten Jepara, belum lama ini. (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah warga menyebut keberadaan gas melon ukuran 3 kilogram sulit dipasaran bahkan langka. Mereka menyebut, sulit mendapat gas elpiji tersebut.

Salah satu warga Ngeling, Kecamatan Pecangaan, Marsiti mengatakan, dirinya harus membeli gas 3 kg ke desa tetangga, yaitu Desa Ngabul. Hal itu dilakukannya karena di desa sekitarnya sempat kehabisan setok.

“Kemarin sudah nyari ke beberapa toko kehabisan semua. Akhirnya, dapat di Ngabul. Tapi harganya sampai Rp 25 ribu per tabung,” jelasnya pada Joglo Jateng, kemarin.

Kemudian, warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Rumiyati mengaku kedapatan harga gas melon sebesar Rp 30 ribu per tabung. Waktu itu, dirinya sempat kaget lantaran yang biasa di harga Rp 20-21 ribu, kini sampai Rp 30 ribu.

“Kemarin memang sempat muter-muter, terus dapat di harga Rp 30 ribu. Mau nggak mau harus beli, karena memang kebutuhan. Apalagi untuk jualan,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, secara terpisah Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Jepara Ferry Yuda menyampaikan, Pemkab Jepara memastikan stok ketersediaan gas melon sampai tingkat bawah aman. Dirinya menyebutkan, kuota harian untuk Jepara sekitar 34-35 ribu tabung.

Namun, pada pekan ini Jepara mendapat tambahan alokasi fakultatif untuk elpiji melon sebanyak 47.040 tabung yang telah di distribusikan pada Sabtu (14/9) hingga Selasa (17/9). Selain itu, alokasi untuk Karimunjawa juga ditambah kuotanya. Dari yang awalnya 2 ribu tabung menjadi 2.240 tabung per pekan.

“Kemarin memang sudah ada laporan terkait gas ya. Kalau kuota itu masih sama, tapi Pak Pj Bupati dan Pak Sekda sudah berkirim surat untuk penambahan kuota. Kami pastikan tidak ada kelangkaan atau kekurangan,” jelasnya.

Ia mengatakan, Bagian Perekonomian telah menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Namun, tim masih menemukan ketersediaan gas melon di pangkalan-pangkalan.

Ferry menganggap, isu kelangkaan gas, muncul karena kekhawatiran masyarakat terhadap naiknya Harga Eceran Tertinggi (HET). Yang semula Rp 15.500 menjadi Rp 18 ribu per tabung. Padahal, kenaikan HET tersebut hanya berlaku di sampai di tingkat pangkalan.

“Kalau di pangkalan itu harganya Rp 18 ribu per tabung. Jadi, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh,” terangnya.

Lebih lanjut, Ferry mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik buying dalam menghadapi gas. Sebab, Pemkab Jepara memastikan ketersediaan gas tetap aman.

“Masyarakat jangan panic buying. Kami berharap masyarakat yang mampu atau ekonomi nya kelas atas bisa beralih ke tabung yang non nun subsidi,” pungkasnya. (cr4/gih)