Kudus  

Batik Tulis Kudus dan Gramasi Emas

Prof. Dr. Drs. Achmad Hilal Madjdi, M.Pd.

SEMPAT mencuat dalam ingatan saya, di masa kecil saya sering mendengar bincang-bincang dewasa tentang bagaimana sebagian dari masyarakat mencari solusi finansial mereka tidak dari kredit perbankan, tapi dari pegadaian. Masih juga lekat dalam ingatan saya, barang- barang yang digadaikan bukanlah barang elektronik, kendaraan bermotor atau perabotan mewah karena meskipun di masa itu sudah ada namun tidak semelimpah saat ini.

Kebanyakan yang digadaikan, dari perbincangan tadi adalah emas dan kain batik. Ingatan itu memantik pemikiran saya betapa berharganya kain batik di masa lalu, sehingga bisa diagunkan untuk mengatasi masalah finansial secara lebih mudah dan mungkin tidak ribet.

Memori pembicaraan tentang kain batik sebagai agunan pegadaian di masa kecil saya, sore hari pada cuti bersama waisak, membawa saya untuk sekadar melemaskan kaki ke teman yang menekuni reproduksi batik-batik Kudus tempo dulu, baik batik tulis maupun cap/ printing. Usaha “home industri” ini sebenarnya telah lama ditekuni dan menghantarkan teman saya secara eksis di dunia perbatikan Kudus.

Sebagaimana diketahui, batik Kudus pernah jaya di masa lalu, sampai berdiri Koperasi Batik Indonesia yang mewadahi para pengusaha batik Kudus. Masa jaya itu kini mulai ditapaki kembali oleh beberapa pengusaha, sebagian besar bahkan dalam pembinaan Djarum Fondation.

Masa lalu batik Kudus sedikit banyak bisa terlacak di showroom sederhana milik teman saya dengan berbagai motif/corak, pola atau “batikan-batikan” yang mengundang decak kagum. Kebetulan teman saya memang fokus pada repro batik tempo dulu, sehingga nampak ada gaya dan sentuhan yang sedikit berbeda dengan batik Kudus kekinian yang mengusung Kudus kekinian dengan tema-tema kretek, tanaman-tanaman pandemi dan kekudusan lainya, seperti menara Kudus, gebyok Kudus, Tari Kretek Kudus dan sebagainya.

Alasan teman saya sangat sederhaana, yaitu batik Kudus kekinian sudah banyak ditekuni pengusaha batik sehingga tidak ada salahnya jika batik Kudus tempo dulu direpro kembali.

Untuk kepentingan repro, desain pola batik Kudus tempo dulu ternyata relative mudah didapatkan kerena banyak kolektor batik Kudus tempo dulu. Kolektor-kolektor batik Kudus tempo dulu ternyata tidak hanya tinggal di Kudus, ada juga yang tinggal di luar Kudus. Koleksi mereka rata-rata masih berbentuk kain batik utuh, belum dibuat baju. Namun ada juga yang dalam bentuk sarung atau jarit dengan kualitas bahan dan batikan yang masih terlhat sangat bagus. Batik tulis maupun batik cap/printing terlihat halus dan mengeluarkan aura batik berkelas.

Proses Produksi Repro

Proses dan produksi repro kain batik biasanya dimulai dari permintaan para pemilik kain atau sengaja dilakukan oleh teman saya beserta teamnya sesuai dengan naluri bisnis dan seni. Repro atas permintaan kastemer tentu sudah jelas akhir perjalanannya di tangan customer. Sedangkan repro kain batik atas inisiatif team jika belum ada peminatnya akan terpajang di geleri meskipun biasanya tidak terlalu lama di galeri. Kebetulan customer batik Kudus tempo dulu tersebar hampir di semua wilayah negara tercinta, mulai dari kalangan rakyat, pengusaha dan pejabat.

Yang menarik adalah proses produksi repro yang dilakukan dengan super hati- hati dengan kecermatan tinggi, dilakukan secara manual. Sudah barang tentu proses awal (merepro batikan) tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Diperlukan darah/bakat seni yang kuat untuk proses repro batikan dengan melibatan “sense of art” yang tajam atau sensitif sehingga produk repro memiliki akurasi yang optimal.

Proses awal ini bisa memakan waktu bebrapa pekan atau bahkan beberapa bulan, tergantung pola batikan yang direpro. Sebab dalam proses awal ini juga dilakukan semacam fokus grup diskusi dengan beberapa pihak yang memiliki “rasa” dan talen yang satu frekuensi.

Hal lain yang barangkali agak mengagetkan adalah pola batik Kudus tempo dulu yang direpro dengan tahap awal yang cukup menghabiskan waktu itu tidak kemudian diproduksi masal. Tidak pula diproduksi untuk sekelompok konsumen yang tidak punya ikatan atau kepentingan sama.

Produksi repro dalam jumlah lebih dari satu biasanya karena permintaan keluarga atau komunitas tertentu. Itupun jarang terjadi karena salah satu kelebihan dari batik Kudus tempo dulu adalah ”tidak ada kembarannya” atau tidak ada yang menyamai, apalagi jika yang direpro adalah batik tulis.

Tahapan-tahapan selajutnya cukup panjang, dimulai dari pemilihan kain yang tepat, menggambar pola dan selanjutnya melakukan pembatikan. Proses yang relatif lama justru tahap pembatikan dan pewarnaan yangbisa memakan waktu beberapa pekan atau beberapa bulan dan bahkan satu tahun atau lebih untuk selembar kain batik tulis. Dengan demikian, proses produksi kain batik repro memerlukan tidak saja nilai seni yang tinggi dan pemahaman tentang batik Kudus tempo dulu, tetapi juga kesabaran, baik kastemer maupun pembuatnya. Suatu kesabaran yang bernilai sangat tinggi secara kejiwaan maupun material yang tentu saja berdampak pada harga yang tinggi pula.

Yang jelas, jika ada yang ingin menyaksikan galeri batik Kudus tempo dulu jangan berharap bisa melihat atau membeli kain batik dengan pola/motif batikan yang sama lebih dari satu kecuali jika memang ada yang berniat order repro batik untuk keluarga, kelompok atau komunitas tertentu. Jika ini dilakukan, pesanan repro harus dilakukan dengan persiapan jangka waktu yang panjang karena proses repro dari awal sampai selesai bisa memakan waktu relatif panjang seperti yang ditulis pada bagian sebelumnya dari tulisan ini.

Standar Harga Batik Tulis Kudus Tempo Dulu

Dari tuturan produsen dan penampakan batik tulis Kudus tempo dulu di galeri, para kastemer ternyata sudah tahu atau sudah memperkirakan harga selembar kain batik tulis repro tempo dulu.

Namun jenis dan kualitas kain juga ikut mempengaruhi harga disamping hal-hal lain seperti yang sudah penulis paparkan di atas. Itulah sebabnya hampir tidak ada tawar menawar dalam transaksi batik tulis Kudus repro ini.

Jika dilihat dari lama waktu yang diperlukan untuk melakukan reproduksi yang bisa satu tahun lebih, harga yang ditawarkan memang sudah seimbang. Begitu juga jika dilihat dari jenis kain sebagai bahan dasar batik, rasa-rasanya juga tidak “over price”. Semuanya nampak serba layak dan wajar sesuai dengan kualitas kain batik yang dipesan atau dibeli langsung. Setiap lembar kain batik tulis repro batik Kudus tempo dulu ada catatan waktu yang diperlukan untuk membuat. Catatan waktu proses pembuatan seperti melekat dalam “histori” kain, melengkapi catatan tentang pola atau tipe dan filosofi dari gambar- gambar batikan. Apalagi jika pola atau tipe batik repro yang dipesan atau terpajang di galeri memiliki riwayat spesifik.

Tetapi catatan tentang harga selembar kain batik tulis repro batik kudus tempo dulu memang menyisakan satu pertanyaan di benak saya, yaitu apakah ada standar harga yang secara konvensional disepakati di kalangan pembatik. Pertanyaan ini terkait dengan fungsi kain batik yang juga bisa menjadi agunan pegadaian, yang tentu harga kain agunan itu tidak akan ditentukan secara sembarangan oleh pihak pegadaian. Sebab agunan yang lain seperti emas dengan beratnya, sepeda motor dengan BPKB yang secara jelas menyebut tahun pembuatan atau pembelian serta agunan elektronik yang jelas bisa diuji reliabelitasnya. Lalu bagaimana dengan selembar kain batik tulis yang tersimpan dan tentu saja belum pernah digunakan.

Dengan tertawa teman saya menjelaskan, secara konvensional para pembatik dan juga mungkin pihak pegadaian memililki semacam kriteria untuk acuan dalam menentukan harga kain baik tulis. Teman saya menuturkan, Selembar kain batik tulis (terutama repro batik tulis Kudus tempo dulu) dinilai minimal setara dengan 2 (dua) gram emas murni. Variasi harga lebih tinggi bisa ditentukan atau ditambahkan sesuai dengan atau mengikuti bagaimana semua prose produksi dilakukan dan kain yang dipilih untuk bahan dasar batik.

Jika Harga Emas Antam per 13 Mei 2025 Rp1.884.000 per gram, maka harga batik tulis repro batik Kudus tempo dulu bisa minimal seharga Rp3.768.000. Tentu banyak yang jauh di atas itu, bisa mencapai puluhan juta rupiah sesuai dengan kualitas kain dan lain-lainnya.(*/sam).