Dia adalah pendiri Paw Workshop Studio. Sebuah studio seni rupa yang kini berkembang pesat di jantung Bali yang dulunya di Kabupaten Pati. Namun kini, ia menjelma menjadi penulis yang tak kalah berani dalam menyampaikan kegelisahan dan kejujuran.
“Melukis adalah caraku bicara dalam diam. Tapi menulis memberiku ruang untuk menjerit tanpa suara,” ujarnya.
Sambil terus menjalankan studio gambar Paw Workshop Studio di Bali, Fandy terus menulis. Ia menyebut proses menulis sebagai terapi dan sekaligus bentuk perlawanan terhadap sunyi.
“Kreativitas tidak harus dibatasi oleh satu medium. Dari kanvas ke kertas, dari garis ke kalimat—Phandpaw membuktikan bahwa kisah hidup, jika diolah dengan jujur, akan selalu menemukan jalannya untuk menyentuh hati,” pungkasnya. (lut/adf)










