MENULIS menjadi jalan baru bagi Fandy Putratama. Lelaki ini menuangkan pengalaman pribadinya menjadi sebuah karya sastra yang berjudul “Senja di Kota Abu”.
Bagi dia, Senja di Kota Abu bukan hanya sekadar fiksi. Karyanya itu adalah potret batin yang tercerai, tersusun dari keping-keping pengalaman pribadi, mulai pengkhianatan, kehilangan, dan harapan yang terus dipaksakan hidup meski hampir padam.
“Karya ini tak hanya menjadi refleksi pribadi, tetapi juga resonansi bagi siapa pun yang pernah merasa tersesat dalam hidup,” kata dia, kemarin.
Lelaki yang akrab disapa Fandy itu menyuguhkan narasi yang puitis dalam Senja di Kota Abu. Meski puitis, kata demi kata dirangkai dengan penuh amarah yang tersembunyi dalam diri.
“Pembaca saya ajak menyusuri lorong-lorong pikiran yang sepi, bertemu tokoh-tokoh simbolik yang menyuarakan sisi gelap manusia,” ucapnya.
Fandy merasa debutnya menciptakan karya sastra ini adalah bukti nyata peralihan ekspresi yang tetap setia pada nilai kejujuran dalam luka. Pasalnya, selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai pelukis yang menuangkan perasaan dan kritik sosial melalui kuas dan cat.










