JEPARA, Joglo Jateng – Kebutuhan akan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Jepara perlu mendapatkan perhatian serius. Pasalnya saat ini, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri di Jepara hanya ada satu, tepatnya berada di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan.
Kondisi ini menyebabkan banyak anak berkebutuhan khusus kesulitan mengakses pendidikan, terutama yang tinggal di wilayah-wilayah terpencil dan jauh dari pusat kota. Minimnya jumlah SLB Negeri ini dikhawatirkan bisa berdampak terhadap meningkatnya anak tidak sekolah (ATS).
Sekretaris Sahabat Difabel (Sadifa) Jepara, Aswin Helmi Arditianto menyampaikan, banyak keluarga anak berkebutuhan khusus mengaku kesulitan menjangkau sekolah yang sesuai karena jarak yang harus ditempuh terlalu jauh. Belum lagi transportasi dan keterbatasan ekonomi yang menjadi tantangan tersendiri.
Dalam beberapa kasus, kata Aswin, anak berkebutuhan khusus akhirnya tidak sekolah sama sekali karena tidak ada alternatif pendidikan inklusif yang dekat dengan tempat tinggal mereka.
“SLB Jepara hanya ada satu, orang tua merasa kasihan karena mengantar anaknya ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Apalagi ketika musim hujan, kasihan yang tidak punya mobil,” ucapnya pada Joglo Jateng, Senin (9/6/25).
Aswin menekankan pentingnya pembangunan SLB tambahan di wilayah utara dan timur Jepara. “Di wilayah Utara misalnya, diusulkan pendirian SLB di Kecamatan Kembang atau Bangsri, agar bisa melayani kebutuhan ABK yang berada di Kecamatan Kembang, Bangsri, Keling, dan Donorojo,” ucapnya.
Saat ini, anak-anak di wilayah tersebut harus menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk sampai ke SLB Senenan.
“Minimal dibuatkan SLB di daerah utara ya, biar teman-teman berkebutuhan khusus juga tidak terkendala jarak. Apalagi rata-rata sekolah ABK itu ditemani orang tua, jadi orang tua yang bekerja juga susah,” lanjutnya.










