Sekolah Inklusi Masih Diragukan, Ini Tanggapan Pakar Pendidikan dari UPGRIS

Pakar Pendidikan sekaligus Akademisi Upgris, Dr. Ngasbun Egar, S.Pd., M.Pd., (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Keraguan masih dirasakan oleh banyak orang tua siswa penyandang disabilitas untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri. Sebab, mereka masih skeptis dengan pelayanan sekolah meski sudah diklaim inklusif.

“Mundurnya anak-anak itu karena ke kekhawatiran orang tuanya apakah nanti anak-anaknya di sekolah umum itu benar-benar sekolah inklusi dalam hal ini benar-benar mendapatkan layanan yang semestinya apa tidak,” ucap Pakar Pendidikan sekaligus Akademisi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Dr. Ngasbun Egar, S.Pd., M.Pd saat dihubungi Joglo Jateng, Senin (16/6/25).

Lebih lanjut, ia menerangkan, bukan hanya dari segi kesiapan fasilitas yang masih belum ramah difabel. Melainkan juga kompetensi tenaga pendidik dalam memberikan pengajaran terbaik ke siswa difabel.

“Harus ada jaminan di sekolah itu nanti ada guru tertentu ya atau pihak tertentu yang memang memiliki keahlian yang berkaitan dengan merawat anak-anak yang difabel sesuai dengan bidangnya gitu. Artinya apakah anak-anak itu difabelnya berkaitan dengan pendengaran atau penglihatan,” ujarnya.

Ngasbun menekankan pentingnya semua sekolah berbasis inklusi untuk bersiap menerima anak-anak difabel dalam SPMB berikutnya. Baik dari sisi peningkatan kualitas SDM, sarana prasarana, penciptaan suasana sekolah yang ramah difabel.

“Budaya yang bisa menghargai keberagaman, menghargai perbedaan. Kalau keyakinan saya dari sisi institusi sekolah dalam hal ini, kepala sekolah, para guru, para tenaga kependidikan,” tegasnya.