Proyek Sheetpile Rp386 M Rampung, Masalah Baru Muncul di Pesisir Semarang

SUASANA : Salah satu nelayan sekaligus warga, Marzuki saat memandangi proyek sheetpile yang telah rampung dikerjakan di Kawasan Tambaklorok-Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Sabtu (17/5).

SEMARANG, Joglo Jateng – Dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), proyek pembangunan sheetpile di kawasan Tambaklorok-Tambakrejo, Kecamatan Semarang Utara rampung.

Tanggul laut sepanjang 3,6 kilometer ini mulai dibangun sejak 10 Desember 2022 dan difungsikan secara resmi pada Kamis, 2 Januari 2025.

Berkat pembangunan tersebut, warga Kampung Nelayan Tambakrejo dapat merasakan dampak positifnya.

Mereka tidak lagi mengalami banjir dan rob di lingkup rumah. Warga sudah tidak lagi perlu meninggikan rumah yang kerap mereka lakukan setiap tahunnya.

Salah satu warga RT 06 RW 16 Tambakrejo, Ana Musdalifah mengatakan, sebelum ada sheetpile, rumahnya didatangi air rob hampir setiap hari pukul 13.00 WIB. Air mulai surut pada pukul 20.30 WIB.

“Ketinggian air rob mencapai 40 cm, paling tinggi sampai selutut orang dewasa. Kalau yang jalan lebih tinggi, itu selutut lebih, paling 70-80 cm. Tapi ngeri banget apalagi pas tanggul laut jebol,” ucapnya saat dikonfirmasi Joglo Jateng, Selasa (17/6).

Saat itu, dirinya berinisiatif untuk meninggikan rumah sekitar 70 cm, tepat di depan rumah. Lalu, ada pula bagian belakang rumah yang gabung dengan rumah saudaranya sekitar satu meter.

“Nah alhamdulillah sekarang ada sheetpile membantulah. Kita berterima kasih banget sama program pemerintah yang sudah di dijalankan yaitu terbangunnya sheetpile,” jelasnya.

Perencanaan Pembangunan Sheetpile Memicu Saluran Drainase Tersumbat

POTRET : Saluran drainase yang tersumbat tepat didepan persis rumah warga, Sabtu (17/5).

Namun sayangnya, pembangunan sheetpile tersebut turut menimbulkan masalah baru.

Yakni, tersumbatnya saluran drainase di depan rumah warga. Kondisi ini bisa ditemui di bagian selatan permukiman warga menuju ke tambak, tepatnya di belakang Masjid I’tikaf Al-Firdaus.

Sedangkan bagian utara, tidak ada aliran sampai ke pompa air, yang seharusnya bisa dihubungkan sampai ke tambak warga.

“Tapi saluran air itu ditutupi dan gak pernah dibersihkan menjadikan air hujan mampet. Mereka ngasih tutup plesteran karena jarang dibersihkan. Padahal dulu waktu sebelum -pembangunan sheetpile itu saluran air lancar saja,” ungkap Ana.

TERSUMBAT : Saluran drainase akhir permukiman warga yang tersumbat karena tertutup oleh material, Sabtu (17/5).

Sementara itu, Istri Ketua RT 06 RW 16 Tambakrejo, Fadhilah (54) menyampaikan salah satu hal yang membuat saluran air kecil warga ikut tersumbat, yaitu belum adanya aktivitas kerja bakti dari warga untuk bersama-sama mengeruk sedimentasi saluran warga selama setahun.

“Jadi ketinggian gotnya itu kan juga enggak sama dengan adanya konstruksi tanah itu tadi. Kadang sebelah sini tinggi (sedimentasi saluran air rumah miliknya), sebelah sana pendek (sedimentasi saluran rumah milik warga lainnya). Artinya dalamnya itu semua lumpur,” terangnya.

SUASANA : Ratusan ribu jentik-jentik nyamuk sedang berkembangbiak lebih banyak, Sabtu (17/5).

Imbas dari saluran drainase akhir yang tersumbat, membuat jentik-jentik nyamuk berkembangbiak dengan cepat pada setiap saluran air kecil depan rumah warga.

Hal itu lantaran, air tawar dan air asin dari rob sebelumnya bercampur jadi satu.

“Jadi ini nyamuk yang luar biasa karena adanya got ini yang berhenti. Satu RW kena semuanya,” imbuhnya.

Warga Tambakrejo Terpaksa Beli Alat Tempur untuk Usir Nyamuk

AKTIVITAS : Istri Ketua RT 06 RW 16 Tambakrejo, Fadhilah (54) saat menunjukkan sejumlah alat tempur untuk mengusir nyamuk pada malam hari, Sabtu (17/5).

Setiap malam, warga RW 16 Tambakrejo harus siap-siap “perang”. Musuhnya adalah nyamuk-nyamuk yang selalu berseliweran dan siap hinggap ke bagian tubuh terbuka untuk menghisap darah.

Menurut pengakuan Fadhilah, dibandingkan dengan sebelum adanya sheetpile, kuantitas nyamuk 10 kali lipat lebih banyak di tahun 2025, sehingga membuatnya harus beradaptasi dengan situasi yang mengganggu waktu tidurnya.

“Setiap malam saat mau tidur itu selalu pakai selambu, semprot baygon banyak-banyak di sekitar sudut rumah. Segala jenis dan merek obat-obatan nyamuk saya oles semua di sekujur tubuh,” keluhnya.

Diakui menggunakan selambu dan berbagai macam alat tempur untuk mengusir nyamuk memang sangat efektif dan membantu.

Namun, membuatnya boros pada pengeluaran sehari-hari. Uang gaji tersedot untuk alokasi membeli pengusir nyamuk, seperti obat nyamuk, raket listrik, lotion, dan masih banyak lagi.

“Ibu itu tidak sampai berapa hari baygon itu habis Rp 40 ribu. Ya tapi piye, kalau ada anak-anak juga kan kayak enggak nyaman juga. Ibu-ibu kalau beli kayak semacam obat nyamuk itu berapa bulan sekali. Tapi kalau saya obat nyamuk bakar itu enggak (beli) karena tidak kuat asapnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebagian sampah yang dibuang oleh warga, selain sampah rumah tangga, adalah bungkus obat nyamuk.

“Kita belum ada bank sampah untuk mengolah sampah seperti itu, kita kendalanya tidak punya tempat untuk memilah milih sampahnya, karena rumah- rumah di sini kecil. Kalau mau numpuk sampai itu mau ditaruh di mana?,” lanjut Fadhilah.

Sebagai informasi, sebagai bentuk penyelesaian merebaknya nyamuk yang mengganggu jam malam warga, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengimplementasi program pengembangbiakan nyamuk baik yang tidak menyebabkan Demam Berdarah (DB), atau disebut dengan Wolbachia ke Kampung Nelayan Tambakrejo. Meski nyamuknya tidak seganas dulu, namun tetap sama menghambat aktivitas warga dari pukul 18.00 WIB sampai keesokan paginya.

Di sisi lain, Lurah Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara Sony Yudha Putra Pradana menerangkan, tersumbatnya saluran drainase di Kampung Nelayan Tambakrejo akibat banyaknya sedimentasi yang terbawa arus saat musim hujan.

Meski begitu, ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan guna menanggulangi permasalahan pada saluran tersebut. Salah satunya, pihaknya akan membuat kegiatan yang melibatkan dengan pihak akademisi dan relawan.

“Kami juga kerja sama dengan warga sekitar melalui kerja bakti. Kalau bisa dikerjakan, ya dikerjakan. Tapi kalau memang enggak bisa, nanti kita pakai tenaga teman-teman dari DPU yang sifatnya mendesak,” tambahnya.

Sebab, ia melihat persoalan kampung tersebut sudah bukan lagi tentang air laut yang masuk ke permukiman warga, melainkan air hujan yang keluar harus dipompa ke lautan. “Jadi ketika harus dipompa kalau memang ada saluran yang tidak lancar itu pasti nanti akan jadi genangan yang agak lama surutnya,” jelasnya.

Selain itu, juga ada beberapa titik yang belum punya saluran air warga karena dulunya ada kesengajaan tidak membuatnya agar air lautnya tidak masuk ke dalam rumah. “Jadi sekarang begitu air lautnya enggak bisa masuk, otomatis air hujannya, kalau misalnya hujan, jadi enggak bisa ngalir ke kolam retensi yang disediakan di dekat rumah pompa,” ucapnya.

Kemudian, pihaknya sudah menganggarkan perbaikan saluran drainase melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Entah nanti pada akhirnya harus membangun saluran lagi, atau memperbaiki yang sudah ada.

“Karena usulan musrenbang baru awal Januari kemarin, tentu hal ini berproses dan rencana eksekusi di tahun depan. Tapi kalau memang yang sifatnya mendesak. sudah mulai kita cicil dengan permohonan ke teman-teman Dinas Pekerjaan Umum (DPU),” tuturnya.

Disinggung soal permasalahan berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk, kata Sonny, pihaknya sedang berusaha mencari solusinya bersama-sama dengan pihak puskesmas setempat.

“Sampai saat ini warga belum ada laporan ke kami soal itu. Kemarin itu juga ada program Wolbachia yang bisa menangani nyamuk itu baik dan tidak menimbulkan DB,” ujarnya.

Sonny berpesan kepada masyarakat Tambakrejo, untuk bersinergitas membangun wilayah pesisir menjadi lebih baik, dengan cara menjaga, merawat, serta melestarikan alam di lingkungannya.

Dari awal perencanaan pembangunan sheetpile, ternyata pemerintah tidak dapat menyelesaikan krisis iklim yang terjadi di wilayah pesisir Semarang seutuhnya.

Hal ini terlihat dari bagaimana dampak dari tata ruang hidup yang justru menyulitkan keberlangsungan hidup warga secara ekonomi.

Sebagian besar penghasilan warga pesisir, dibelikan untuk membeli obat-obatan nyamuk untuk bertahan hidup, daripada untuk kebutuhan rumah tangga.