Sementara itu, dari sektor pelaku usaha, Direktur Konsorsium Jepara Gerak, Antonius Suhandoyo menilai, situasi global saat ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Setelah proses klarifikasi kebijakan tarif dengan Amerika Serikat, ia menyebut hambatan non tarif kini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi, terutama dalam upaya menembus pasar alternatif.
“Geopolitik hari ini bikin peta logistik makin berat. Tapi ini juga peluang untuk kita tidak hanya bergantung pada pasar lama. Kita harus ekspansi. Produk kita punya kualitas, tinggal cari klik dengan konsumen yang tepat,” ujarnya.
Antonius juga menyoroti pentingnya kerja sama antarpihak, baik antara pelaku usaha dengan pemerintah, maupun kerja sama antarnegara. Menurutnya, sinergi semacam ini akan mempermudah penetrasi ke pasar baru dan mengurangi hambatan dalam perdagangan.
“Kita tidak bisa kerja sendiri. Ada enam negara yang sudah menunjukkan minat tinggi terhadap produk Jepara. Tapi memang masih ada hambatan teknis yang harus diselesaikan lewat jalur Government to Government,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Antonius, upaya seperti keikutsertaan dalam pameran internasional, promosi dagang, dan perjanjian perdagangan bebas disebut sebagai langkah konkret yang saat ini tengah dijalankan. Dengan harapan, ke depan produk furnitur Jepara bisa lebih dikenal dan kompetitif di pasar global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika perdagangan dunia. (oka/gih)










