JEPARA, Joglo Jateng – Industri furnitur Jepara bersiap untuk membuka pasar ekspor baru menyusul terganggunya rantai logistik global akibat konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Asia dan Afrika. Situasi ini dinilai menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat ekspansi pasar non-tradisional yang selama ini belum tergarap maksimal.
Sekretaris Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Trisari Dyah Paramita, dalam kunjungan kerjanya menyampaikan bahwa saat ini ekspor furnitur Indonesia termasuk dalam 10 besar komoditas unggulan. Namun, adanya ketegangan politik internasional, termasuk di kawasan Timur Tengah dan Afrika, telah berdampak langsung pada jalur distribusi, baik laut maupun udara.
“Perang yang terjadi berdampak pada logistik. Banyak rute laut dan udara yang terganggu. Maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk kerja bareng, memperluas ekspor ke negara-negara alternatif,” ujarnya usai berdiskusi bersama dengan pengrajin furnitur di Pendopo Kartini Jepara, Senin (7/7).
Trisari menyampaikan, pasar tradisional seperti Amerika Serikat masih kuat, tetapi peluang di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, hingga Afrika Selatan belum dimaksimalkan. Sehingga, perlu adanya pemaksimalan pada pasar non tradisional. Seperti Australia, India, Korea, Malaysia, Dubai, hingga Afrika Selatan yang memiliki potensi besar dari sisi kapasitas pembelian dan pertumbuhan ekonomi.
“Pasar non tradisional bukan berarti tidak punya potensi. Justru belum banyak yang aware. Kita harus mengenalkan produk furnitur Indonesia, baik indoor, outdoor, hingga kerajinan ke pasar-pasar baru ini,” tambah Trisari.










