Tamasya: Solusi Pendampingan bagi Keluarga Muda

FOTO BERSAMA: Kuliah Umum sekaligus Pelepasan mahasiswa KKN ke-34 Unwahas bersama Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Wihaji, dan Rektor Unwahas, Helmy Purwanto, Selasa (22/7/25). (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak 71 ribu perempuan di Indonesia memilih untuk menjalani kehidupan pernikahan tanpa memiliki anak atau childfree. Fenomena ini menjadi perhatian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Terutama karena sebagian besar alasan yang melatarbelakanginya berkaitan dengan persoalan ekonomi.

Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, usai memberikan kuliah umum dan menyaksikan penandatanganan MoU antara BKKBN dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Selasa (22/7/25).

Wihaji menyebut bahwa angka tersebut merupakan hasil survei yang menunjukkan adanya keinginan dari sejumlah perempuan untuk tetap menikah, namun memilih tidak memiliki anak. Meski demikian, ia meyakini bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih memegang nilai-nilai tradisional tentang pentingnya kehadiran anak dalam sebuah keluarga.

“Ada 71 ribu berdasarkan survei yang menginginkan childfree, menikah tetapi tidak ingin punya anak. Tetapi itu baru sebatas keinginan. Saya tidak yakin hal itu akan benar-benar dijalankan. Karakter masyarakat Indonesia bukan seperti itu. Ini kan sunatullah,” ujarnya.

Wihaji menegaskan bahwa sebagai pejabat negara, ia menghormati pilihan tersebut sebagai hak pribadi. Namun, secara kelembagaan, ia tidak menyarankan keputusan itu diambil secara massal. Menurutnya, jika fenomena ini berkembang menjadi tren luas, maka keberlangsungan bangsa dapat terancam.

“Saya menghormati mereka yang memilih childfree. Tetapi selaku menteri tentu tidak menyarankan karena apa? Kalau keluarga tidak ada, negara bisa bubar. Bayangkan kalau 50 tahun lagi semua orang tidak menikah atau menikah tapi tidak punya anak, siapa yang akan menggantikan profesi yang ada saat ini, termasuk wartawan?” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa alasan utama para perempuan memilih childfree adalah ketakutan terhadap beban ekonomi. Banyak dari mereka khawatir tidak mampu mengasuh anak karena harus berhenti bekerja atau tidak sanggup membayar jasa pengasuhan seperti asisten rumah tangga.