Mengawal ASI Eksklusif, Poltekkes Semarang Terapkan ErDa Model di Tlogosari Kulon

SUASANA : Pengabdian masyarakat di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kamis (7/8). (DOK/JOGLO JATENG).

SEMARANG, Joglo Jateng – Upaya mencegah stunting terus digencarkan di Kota Semarang, mengingat prevalensinya masih berada di angka 22,12 persen.

Salah satu langkah nyata dilakukan Poltekkes Kemenkes Semarang dengan mengimplementasikan hasil penelitian ErDa Model melalui kegiatan pengabdian masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Kulon, tepatnya di Kelurahan Muktiharjo Kidul.

Program bertajuk “Implementasi Hasil Penelitian ErDa Model sebagai Upaya Pendampingan, Pencatatan, dan Kawal ASI Eksklusif” ini digagas oleh Dr. Irmawati, S.Kep., Ns., M.Kes., selaku ketua pengabmas, bersama tim dosen Zefan Adiputra Golo, SKM, M.Kes., dan Adhani Windari, SKM, M.Kes., serta didukung mahasiswa Dava Fill Hayya, Oktavina, dan Nadia. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (7/8).

ErDa Model merupakan inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang melibatkan kelompok Dasa Wisma sebagai agen perubahan.

Melalui pelatihan dan praktik terstruktur, para anggota dibekali kemampuan mendampingi ibu menyusui serta mencatat praktik pemberian ASI eksklusif menggunakan Register Kohort Ibu Menyusui Eksklusif, sebuah instrumen pencatatan sederhana namun komprehensif.

“Kami ingin mendekatkan pendampingan ke masyarakat, terutama kepada para ibu menyusui, sehingga praktik ASI eksklusif bisa berjalan lebih intensif, terjangkau, dan berkesinambungan,” jelas Dr. Irmawati.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dijalankan dalam lima tahap, yakni persiapan, pendataan calon anggota, pelatihan teknis, praktik lapangan terbatas, serta pertemuan penguatan lintas lembaga untuk keberlanjutan program.

Pendekatan ini melibatkan Puskesmas, PKK, hingga perangkat RW/RT setempat.

Menurut Irmawati, implementasi ErDa Model tidak hanya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga mengisi celah dalam sistem pencatatan ASI eksklusif yang selama ini belum optimal.

“Sinergi antara tenaga kesehatan dan masyarakat awam terlatih menjadi kunci percepatan penurunan stunting,” ujarnya.

Hasil yang ditargetkan dari program ini adalah terselenggaranya pelatihan pendampingan ASI eksklusif, tersedianya data berbasis komunitas yang lebih akurat, serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam praktik menyusui eksklusif.

Lebih jauh, ErDa Model diharapkan bisa direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari strategi nasional pencegahan stunting.

“Gerakan perbaikan gizi anak tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah atau tenaga kesehatan. Ini adalah kerja bersama yang bisa dimulai dari rumah-rumah warga,” tegas Irmawati. (luk).