SEMARANG, Joglo Jateng – Ancaman kekeringan yang kerap melanda sejumlah daerah di Indonesia mendorong peneliti Universitas Negeri Semarang (UNNES) untuk menghadirkan solusi inovatif. Prof. Samsudin Anis, dosen UNNES, berhasil mengembangkan alat bernama Atmospheric Water Maker (AWM), mesin yang mampu mengubah udara menjadi air minum bersih.
Alat tersebut bekerja dengan mengekstraksi kelembapan dari udara melalui proses filtrasi dan kondensasi. Air yang terkumpul kemudian dimurnikan hingga memenuhi standar air minum, sehingga aman untuk dikonsumsi.
“Ide ini berasal dari masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Di beberapa daerah pesisir, termasuk Kalimantan, air memang banyak tetapi berupa air payau. Alat ini diharapkan bisa menjadi solusi,” ujar Prof. Samsudin, Sabtu (23/8).
Menurutnya, gagasan ini muncul dari kenyataan seringnya terjadi kekeringan di wilayah selatan Jawa dan kawasan timur Indonesia. Daerah-daerah tersebut kerap kesulitan memperoleh air bersih yang layak konsumsi.
Tak hanya menyasar kebutuhan rumah tangga, AWM juga dirancang untuk sektor publik dan medis. Di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan, air hasil olahan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan terapeutik dan klinis. Sementara di masyarakat, mesin ini bisa menjadi sumber air minum di rumah, kantor, hingga fasilitas publik.
Untuk mempercepat penerapan teknologi, Prof. Samsudin telah menjalin kerja sama dengan perusahaan elektronik guna menyiapkan produksi massal. Ia berharap kolaborasi ini mempercepat langkah dari laboratorium menuju pasar, sehingga teknologi tersebut dapat segera diakses masyarakat luas. (luk/gih)










