Lanjutnya, koperasi juga membuka peluang bagi warung-warung kecil di sekitar desa untuk ikut terlibat. Mereka bisa menjual kembali produk dari koperasi dengan harga khusus, sehingga tidak terjadi persaingan, melainkan sinergi antar-pelaku ekonomi di desa.
“Kami ingin warung kecil ikut tumbuh. Mereka bisa jadi mitra koperasi, bukan saingan. Perputaran ekonomi harus tetap di desa,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa tantangan utama koperasi di awal berdiri adalah membangun kepercayaan masyarakat. Banyak warga masih mengaitkan koperasi dengan sistem simpan pinjam tradisional.
Karena itu, pengurus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami bahwa koperasi ini adalah wadah bersama untuk kesejahteraan bersama. Kehadiran agen BRILink di KDMP juga menjadi tonggak penting dalam upaya digitalisasi layanan desa.
”Melalui kerja sama dengan BRI, masyarakat kini dapat melakukan transaksi keuangan tanpa harus ribet,” katanya.
Dirinya menambahkan, generasi muda berperan penting dalam menjalankan sistem digital koperasi ini. Mereka menjadi ujung tombak dalam pengoperasian layanan berbasis teknologi.
“Anak muda di Jati Wetan sudah cukup melek digital. Mereka kami libatkan langsung. Sementara warga yang belum terbiasa kami bantu dengan sosialisasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Pimpinan Cabang BRI Kudus, Iman Indrawan mengatakan bahwa KDMP merupakan salah satu koperasi desa pertama yang menjalankan program Laku Pandai. Yang mana, hal itu memungkinkan transaksi digital di tingkat akar rumput.
“Masyarakat bisa transfer, bayar listrik, atau pajak kendaraan melalui gerai BRILink di koperasi. Ini langkah besar menuju ekonomi digital desa,” katanya.










