Jepara  

Gus Yusuf Ingatkan Pesantren Tak Abai soal Kekerasan Seksual

KETERANGAN: Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori, bersama Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Kaderisasi DPP Perempuan Bangsa, Hindun Anisah, saat mensosialisasikan modul anti pencabulan di pondok pesantren di Gedung NU Kecamatan Tahunan, Minggu (30/11). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng- Meningkatnya sorotan publik terhadap kasus kekerasan seksual di sejumlah pondok pesantren membuat para kiai dan pengelola lembaga pendidikan Islam kembali memperketat perhatian. Salah satunya datang dari pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori, yang menekankan perlunya kepedulian semua pihak dalam menjaga marwah pesantren.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri sosialisasi Modul Anti Pencabulan di Pesantren yang digelar oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perempuan Bangsa di Gedung NU Kecamatan Tahunan, Minggu (30/11). Kegiatan ini diikuti sekitar 750 peserta dari kalangan pengasuh pesantren, kiai, nyai, asatidz, asatidzah hingga santri se-Jepara.

Gus Yusuf menuturkan, sejumlah ulama di Yogyakarta mengeluhkan menurunnya jumlah santri baru dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut, kata dia, tidak hanya terjadi di Yogyakarta, tetapi juga dialami banyak pesantren besar di Indonesia.

Selain faktor ekonomi dan meningkatnya pilihan pendidikan umum, kabar negatif mengenai pesantren turut memberi dampak signifikan.

“Tidak bisa kita abaikan, berita tentang kekerasan, perundungan, sampai kasus pencabulan baik oleh oknum kiai maupun antar santri itu jelas memengaruhi kepercayaan masyarakat,” ujarnya pada Joglo Jateng.

Dalam era keterbukaan informasi, lanjutnya, pesantren ibarat akuarium yang seluruh geraknya dapat terlihat dengan mudah. Karena itu, ia menekankan pentingnya pesantren terus berbenah dan tidak menganggap remeh persoalan kecil.

“Jika masalah sepele dibiarkan, ia bisa meledak dan merembet ke mana-mana. Jangan sampai dianggap sekadar ulah oknum,” tegasnya.