SEMARANG, Joglo Jateng – Persoalan kekurangan tenaga pendidik di Jawa Tengah dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Meski pemerintah telah mengangkat ribuan guru melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), kesenjangan kebutuhan pengajar masih sangat terasa, khususnya pada mata pelajaran spesifik dan keahlian tertentu.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah, Muhdi, menegaskan bahwa penambahan guru PPPK sejauh ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan riil di sekolah-sekolah.
“Belum mencukupi, sehingga masih dibutuhkan guru-guru tambahan, terutama untuk bidang-bidang tertentu,” kata Muhdi saat dikonfirmasi, Senin (15/12/2025).
Krisis Guru Bahasa Asing dan Produktif SMK
Muhdi membeberkan fakta di lapangan bahwa kekosongan pengajar banyak terjadi pada mata pelajaran bahasa asing hingga kompetensi keahlian (produktif) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kondisi ini dinilai merugikan hak belajar siswa.
“Misalnya guru bahasa Prancis, mata pelajarannya ada dan peminatnya banyak, tetapi gurunya tidak tersedia,” ungkapnya.
Situasi serupa terjadi di jenjang SMK. Akibat kekurangan personel, guru yang tersedia terpaksa harus mengajar melebihi beban jam kerja yang ditetapkan demi menutupi kekosongan kelas.
“Ini fakta di lapangan. Ada mata pelajaran yang gurunya ada tetapi jam mengajarnya melampaui kewajiban, dan ada juga yang memang sama sekali tidak ada gurunya,” tambah Muhdi.










