Geger Ratusan Siswa Grobogan Keracunan Nasi Kuning MBG, Telur Dadar Diduga Jadi Pemicu

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno memberikan keterangan pers terkait video viral aktivitas zikir di Candi Prambanan
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Insiden keracunan MBG di Grobogan (Makan Bergizi Gratis) yang menimpa ratusan pelajar menjadi sorotan serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sebanyak 803 siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu makan siang pada Jumat (9/1/2026) lalu.

Hingga Rabu (14/1), suasana di sejumlah fasilitas kesehatan masih terlihat sibuk menangani sisa pasien yang belum pulih. Buntut dari kejadian luar biasa ini, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dihentikan sementara waktu guna kepentingan evaluasi dan investigasi mendalam.

17 Siswa Masih Dirawat Intensif

Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG Jawa Tengah, Hanung Triyono menyampaikan pembaruan data terkini. Meskipun sebagian besar korban sudah pulih, masih terdapat 17 siswa yang harus menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit.

“Tidak ada guru yang terdampak, seluruh pasien adalah siswa pondok dan SD,” ujar Hanung.

Adapun sebaran pasien yang masih dirawat adalah sebagai berikut:

  • RSUD Ki Ageng Getas Pendowo: 9 siswa.
  • RSUD R. Soedjati Purwodadi: 3 siswa.
  • Puskesmas Godong 1: 5 siswa.

Menu Nasi Kuning dan Telur Disorot

Tim investigasi kini memfokuskan pendalaman pada menu makanan yang dibagikan. Paket MBG tersebut berisi nasi kuning dengan lauk pauk berupa telur dadar, abon, kering tempe/keripik, selada timun, dan buah jeruk.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengungkapkan, hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan kontaminasi bahan pangan.

“Penyebabnya bisa berasal dari jeda waktu antara persiapan bahan, proses memasak, hingga penyajian, atau dari kualitas bahan makanan itu sendiri,” jelas Sumarno.

Indikasi awal menyebutkan telur yang tidak layak konsumsi diduga kuat menjadi pemicu keracunan massal tersebut. Meski demikian, Dinas Kesehatan masih melakukan uji laboratorium untuk memastikan sumber bakteri atau racun secara akurat.

Terkait potensi sanksi bagi penyedia layanan, Pemprov Jateng masih menunggu hasil asesmen lengkap. Evaluasi menyeluruh terus dikebut agar insiden serupa tidak terulang dalam penyaluran program MBG di masa mendatang. (hfh/iza)