BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Aktivitas produksi terlihat sibuk di rumah produksi Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Gunung, Desa Pakelen, Kecamatan Madukara, Banjarnegara. Di tangan terampil para ibu desa ini, komoditas salak pondoh disulap menjadi produk bernilai tinggi berupa olahan salak Banjarnegara, yakni sirup dan manisan.
Inovasi ini menjadi angin segar bagi ekonomi warga setempat, sekaligus menaikkan kelas salak pondoh yang selama ini hanya dijual sebagai buah segar musiman.
Tembus Pasar Singapura dan Malaysia
Penggerak KWT Putri Gunung, Meli mengungkapkan, setiap harinya kelompok ini mampu mengolah puluhan kilogram salak segar menjadi sekitar 400 cup sirup dan aneka manisan. Keunggulan produk mereka terletak pada proses pengawetan alami.
“Kami tidak memakai pemanis buatan. Rahasianya ada pada gula pasir yang diperbanyak sebagai pengawet alami,” ujar Meli saat ditemui di lokasi, baru-baru ini.
Berkat metode tradisional tersebut, sirup salak buatan mereka mampu bertahan hingga tiga bulan dalam kondisi prima. Potensi pasar produk ini pun terbilang besar. Meli mengklaim produknya telah merambah pasar ekspor hingga ke Singapura dan Malaysia, serta dikirim ke luar pulau seperti Kalimantan.
Namun, kondisi ini menyisakan ironi. Produk yang diminati pasar luar justru belum banyak dilirik oleh pasar lokal Banjarnegara sendiri. “Kalau di luar kota permintaannya bagus, tapi di Banjarnegara sendiri masih sepi. Mungkin belum banyak yang tahu,” imbuhnya.
Tercekik Sistem Konsinyasi
Selain masalah popularitas di kandang sendiri, pelaku UMKM ini juga dihantui persoalan modal. Meli mengeluhkan sistem pembayaran di pusat oleh-oleh yang mayoritas menerapkan sistem konsinyasi atau titip jual.
“Sistemnya retur ditanggung sendiri, dan pembayaran baru setelah barang laku. Ini berat di modal,” keluh Meli. Risiko barang kembali dan perputaran uang yang lambat menjadi kendala utama pengembangan usaha.










