Laris di Malaysia tapi Sepi di Kandang Sendiri, Ironi Sirup Salak Pakelen Banjarnegara

Anggota KWT Putri Gunung bersama Kepala Desa Pakelen saat menunjukkan produk hasil olahan salak di rumah produksi Desa Pakelen, Kecamatan Madukara, Banjarnegara
BANGGA: Anggota KWT Putri Gunung bersama Kepala Desa Pakelen saat menunjukkan produk hasil olahan salak di rumah produksi Desa Pakelen, Kecamatan Madukara, Banjarnegara belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Lebih Manis dari Carica

Kepala Desa Pakelen, Kusnan, mendukung penuh upaya warganya melakukan hilirisasi produk. Langkah ini dinilai krusial untuk menyelamatkan harga salak yang kerap anjlok saat panen raya.

“Kalau panen raya, harga salak turun sekali. Maka harus ada terobosan. Produk kita ini asli tanpa pengawet, rasanya lebih manis dari carica karena bahan bakunya sudah manis,” terang Kusnan.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara memberikan dukungan nyata, bukan sekadar pembinaan, melainkan dengan membeli produk lokal untuk keperluan dinas. “Jangan hanya dibela, tapi juga dibeli. Kalau ada acara bupati atau rapat dinas, pesannya ya manisan atau sirup salak Pakelen,” tegasnya.

Respons Dinas Terkait

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop UKM) Banjarnegara, Budi Wahyono menyatakan kesiapannya untuk terjun ke lapangan. Pihaknya akan melakukan verifikasi untuk memetakan kebutuhan kelompok usaha tersebut.

Meski belum bisa menjanjikan bantuan alat karena keterbatasan anggaran, Budi memastikan akan memberikan intervensi berupa pendampingan.

“Kami akan lihat apa yang dibutuhkan, apakah kemasan, teknik produksi agar lebih efisien, atau strategi pemasaran,” pungkasnya. (abd/iza)