Langka dan Lumer di Mulut, Durian Tedjo Asal Banjarnegara Jadi Buruan Pecinta Durian

TUNJUKKAN: Petani Durian dari Dusun Dirun, Eko Waluyo saat menunjukkan Durian Tedjo di halaman rumahnya, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Di tengah gempuran varietas modern, Dusun Dirun, Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara masih mempertahankan pohon indukan durian lokal yang dinamai Durian Tedjo. Varietas ini memiliki ciri khas bentuk buah dengan guratan juring yang tegas menyerupai belimbing.

Bukan sekadar buah, Durian Tedjo memiliki nilai sejarah tersendiri bagi warga setempat. Nama ini disematkan sebagai bentuk penghormatan kepada mantan Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, yang pernah memberikan perhatian khusus pada kelestarian durian ini.

Sejarah Nama Durian Tedjo

Salah seorang petani durian dari Dusun Dirun, Eko Waluyo mengisahkan awal mula penamaan varietas tersebut. Saat rintisan Festival Durian pertama kali digelar, mantan Bupati Sutedjo berkunjung dan disuguhi salah satu durian lokal terbaik desa tersebut.

“Ini bagus duriannya. Tolong dipertahankan, dipupuk, dan dirawat baik-baik. Jangan sampai mati,” kenang Eko menirukan pesan Bupati Sutedjo kala itu.

Atas dasar kesan mendalam itulah, warga sepakat menyematkan nama sang bupati pada varietas tersebut. “Karena kesan itulah, warga menamakannya Durian Tedjo. Ini bentuk apresiasi kami. Sekarang, durian ini punya legenda sendiri,” kata Eko, belum lama ini.

Karakteristik Rasa Premium

Meski berstatus durian lokal, kualitas Durian Tedjo masuk dalam kategori premium. Keistimewaan utamanya terletak pada daging buah yang berwarna kuning pekat dengan tampilan lapisan mengkilat seperti kaca, namun tetap kering saat disentuh tangan.

Soal rasa, Eko menyebut Durian Tedjo menawarkan sensasi manis yang intens khas durian Banjarnegara.

“Saat digigit, teksturnya pulen dan langsung lumer di mulut,” ujarnya.

Satu pohon indukan Durian Tedjo biasanya hanya menghasilkan sekitar 300 hingga 500 butir per musim. Kelangkaan inilah yang membuatnya menjadi buruan eksklusif. Harganya pun tergolong stabil untuk kelas lokal, yakni berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 150.000 per butir, bukan dijual kiloan.

“Dibandingkan dengan Musangking yang bisa Rp 500 ribu, Durian Tedjo menawarkan komparasi rasa dan nilai sejarah yang tidak bisa tergantikan,” tambah Eko.

Tantangan Pelestarian Varietas Lokal

Meski populer di media sosial berkat kekuatan branding digital, keberadaan durian lokal asli kini menghadapi tantangan serius. Eko mengungkapkan, varietas lokal asli berkualitas tinggi di daerahnya kini tinggal tersisa sekitar 5 persen hingga 10 persen saja.

Penurunan populasi ini akibat maraknya penggunaan teknik top working (sambung pucuk) yang mengganti varietas lokal dengan varietas populer lainnya demi mengejar pasar sesaat.

Akibat stok yang terbatas dan permintaan tinggi dari online, stok Durian Tedjo di pasar eceran sering kali ludes sebelum sempat dipajang. (abd/sam)