PATI, Joglo Jateng – Suasana sejuk dan damai langsung terasa begitu melangkahkan kaki ke dalam Masjid Jami Kajen Pati yang masih mempertahankan keaslian soko (tiang penopang) dari kayu jati utuh. Berada di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, bangunan yang berdiri sejak tahun 1695 ini bukan sekadar tempat ibadah biasa yang menyimpan pesona arsitektur Jawa Kuno.
Masjid bersejarah ini merupakan tonggak awal dan saksi bisu perjuangan Syekh Ahmad Mutamakkin, atau yang akrab disapa Mbah Mutamakkin. Melalui masjid inilah, ia menyebarkan ajaran Islam sekaligus memimpin perlawanan tanpa pertumpahan darah yang kelak mengubah Desa Kajen menjadi pusat pesantren terbesar di Kabupaten Pati.
Perjalanan Panjang Mbah Mutamakkin
Mbah Mutamakkin, yang memiliki nama kecil Sumohadiwijaya, aslinya lahir di wilayah Cebolek, Kabupaten Tuban. Ia tiba di Pati setelah terdampar di pesisir utara Jawa, tepatnya di Pantai Cebolek Margoyoso, usai menimba ilmu dari Syekh Zein di Yaman dan menunaikan haji di Mekkah.
Setibanya di Kajen, ia bertemu dengan Haji Syamsuddin yang kala itu merupakan pemilik wilayah setempat. Keduanya kemudian bahu-membahu menyebarkan ajaran Islam hingga akhirnya mendirikan Masjid Jami Kajen pada tahun 1107 Hijriah atau 1695 Masehi.
Koordinator Islamic Center Kajen, Mohammad Azwar Anas, menuturkan bahwa bangunan masjid ini telah melewati tiga kali pemugaran, yakni pada tahun 1910, 1952, dan 2010.
“Meski direnovasi, arsitektur Jawa kunonya tetap dipertahankan. Termasuk atap tumpang tiga yang secara filosofis melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan,” terangnya.

Filosofi Satwa pada Mimbar Masjid Jami Kajen
Keunikan lain dari masjid ini terletak pada mimbar khotbahnya yang dihiasi ukiran satwa dan pepohonan yang sarat makna. Anas menjelaskan, ukiran tersebut merupakan pesan tersirat bagi para santri dan keturunan Mbah Mutamakkin:
- Dua Naga: Melambangkan keharusan mengedepankan laku tirakat (prihatin) dan kemampuan menahan hawa nafsu duniawi.
- Gajah Membawa Trisula: Menyimbolkan kekuatan tekad yang besar untuk mampu melewati berbagai rintangan kehidupan.
- Burung Kuntul Mematuk Rembulan: Menggambarkan cita-cita luhur yang tinggi serta keluwesan dalam beradaptasi di lingkungan mana pun.










