JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bersiap melakukan gerakan penghijauan masif guna menyelamatkan ribuan hektare lahan kritis Jepara yang tersebar di kawasan lereng Gunung Muria. Sedikitnya 3,2 juta bibit pohon ditargetkan tertanam untuk memulihkan ekosistem dan mencegah ancaman di kawasan berisiko tinggi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini, mengungkapkan pemulihan ekologis ini sangat mendesak. Saat ditemui tengah meninjau dokumen pemetaan lingkungan di ruang kerjanya, Senin (23/2/26), ia menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan di Jepara dipetakan menjadi dua metrik, yakni luasan lahan kritis dan kawasan berisiko tinggi.
Rincian Ribuan Hektare Lahan Kritis Jepara
Merujuk pada data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Pemali Jratun tahun 2024, terdapat 8.769,25 hektare lahan yang dipastikan berstatus kritis dan sangat kritis. Kondisi ini tersebar di delapan dari 16 kecamatan di Kota Ukir.
“Meluasnya lahan kritis dipicu tingkat kemiringan lahan, minimnya tutupan vegetasi, tingkat erosi yang tinggi, serta pola pemanfaatan lahan oleh masyarakat,” jelas Rini.
Berikut rincian sebaran luasan lahan kritis di delapan kecamatan tersebut:
- Kecamatan Keling: Lahan kritis 1.438,26 ha; sangat kritis 376,52 ha.
- Kecamatan Kembang: Lahan kritis 1.063,37 ha; sangat kritis 84,84 ha.
- Kecamatan Batealit: Lahan kritis 839,59 ha; sangat kritis 328,08 ha.
- Kecamatan Mayong: Lahan kritis 797,29 ha; sangat kritis 166,06 ha.
- Kecamatan Donorojo: Lahan kritis 704,09 ha; sangat kritis 14,38 ha.
- Kecamatan Pakisaji: Lahan kritis 663,86 ha; sangat kritis 347,93 ha.
- Kecamatan Nalumsari: Lahan kritis 643,87 ha; sangat kritis 441,55 ha.
- Kecamatan Bangsri: Lahan kritis 536,57 ha; sangat kritis 323,01 ha.










