Kudus  

Ratusan Hektare Sawah Kudus Puso Diterjang Banjir, Pemkab Janjikan Ganti Rugi untuk Petani

KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kini mengintensifkan penanganan sawah puso Kudus akibat terjangan banjir dan cuaca ekstrem. Ratusan hektare lahan pertanian di kawasan dataran rendah dilaporkan terendam parah, meninggalkan hamparan tanaman padi yang membusuk dan memicu nestapa ekonomi bagi para petani penggarap.

Bencana hidrometeorologi sejak akhir tahun lalu ini membuat tanaman terendam air dalam waktu yang cukup lama. Kondisi gagal panen tersebut mendorong pemerintah daerah mengambil langkah darurat agar dampak sosial tidak semakin meluas di kalangan masyarakat desa.

Melalui koordinasi lintas sektoral bersama sejumlah stakeholder terkait, Pemkab Kudus telah merumuskan skema penyelamatan. Langkah ini meliputi pendataan ketat lahan terdampak, fasilitasi klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), hingga percepatan perbaikan infrastruktur jaringan irigasi.

Solusi Konkret untuk Petani Terdampak

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa pemulihan sektor pertanian pascabencana menjadi prioritas absolut pemerintah daerah. Ia menilai, sektor agraris merupakan penopang vital perekonomian kerakyatan yang urgen untuk diselamatkan.

”Petani tidak boleh dibiarkan menanggung beban sendiri. Pemerintah hadir untuk memastikan ada solusi, baik melalui asuransi, bantuan benih, maupun perbaikan infrastruktur pendukung,” tegas Sam’ani.

Guna mencegah tragedi serupa terulang di musim tanam berikutnya, Pemkab juga menggandeng BPBD dan Dinas PUPR untuk mempercepat normalisasi sungai serta drainase persawahan. Pemerintah juga menyoroti pentingnya klaim asuransi pertanian yang dinilai sangat menyelamatkan arus kas petani di saat krisis.

“Pemerintah daerah terus mendorong petani lain untuk mengikuti program tersebut sebagai bentuk perlindungan jangka panjang,” bebernya.

Di sisi lain, proses pemulihan lahan pascagenangan juga terus dikawal secara ketat oleh dinas teknis. Para penyuluh pertanian lapangan kini dikerahkan secara masif ke desa-desa untuk memberikan rekomendasi pola tanam yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem. (adm/fat/rds)