KUDUS, Joglo Jateng – Upaya menekan angka penyebaran tuberkulosis (TBC) di Kecamatan Bae terus digencarkan oleh Puskesmas Dersalam Kudus. Fasilitas kesehatan ini meluncurkan inovasi bertajuk Skrining Kasus Terduga TBC Puskesmas Dersalam atau yang disingkat Sate Masalam.
Langkah proaktif ini menjadi sangat krusial mengingat ancaman penyakit menular paru-paru tersebut masih nyata mengintai masyarakat, terutama di area padat penduduk dan lingkungan pendidikan.
Berdasarkan data internal puskesmas, sepanjang tahun 2025 tercatat ada sebanyak 624 orang berstatus terduga TBC. Dari ratusan suspect tersebut, 36 kasus terkonfirmasi positif TBC sensitif obat dan satu kasus resisten obat.
Angka penularan ini rupanya terus berjalan. Pada Januari 2026, petugas kembali menemukan satu kasus baru yang terkonfirmasi positif, sehingga menuntut penanganan ekstra dari tenaga medis.
Jemput Bola Putus Rantai Penularan
Kepala Puskesmas Dersalam, Tektona Graha Sanjaya, menjelaskan bahwa program Sate Masalam menjadi layanan unggulan karena menggunakan pendekatan jemput bola secara langsung ke masyarakat.
“Kami tidak hanya menunggu pasien datang. Kami jemput bola, terjun langsung ke masyarakat untuk melacak kontak pasien TBC, baik di keluarga, lingkungan sekitar, pesantren, hingga sekolah. Tujuannya memutus rantai penularan,” ujarnya.
Pelacakan atau skrining dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan dahak hingga Tes Cepat Molekuler (TCM). Langkah taktis ini menyasar kelompok berisiko tinggi yang beraktivitas di ruang tertutup dengan padat interaksi.
“Penanganan TBC itu tidak cukup hanya mengobati pasien. Kita harus tahu tertular dari mana dan sudah menularkan ke siapa saja. Kalau tidak diputus, penularannya akan terus berlanjut,” terangnya.
Hadirkan Pojok TBC Khusus
Sebagai bentuk penguatan layanan di fasilitas internal, puskesmas juga menghadirkan Pojok TBC. Ruang khusus ini sengaja disediakan untuk mencegah potensi penyebaran bakteri di area ruang tunggu.
“Pasien TBC kita pisahkan jalur dan ruang tunggunya. Mereka tidak bercampur dengan pasien lain, sehingga risiko penularan bisa ditekan dan pasien juga lebih nyaman menjalani pengobatan,” imbuh Tektona.
Masyarakat kini diimbau agar lebih waspada terhadap gejala TBC. Ciri utamanya meliputi batuk lebih dari dua minggu yang tak kunjung sembuh, penurunan berat badan drastis, keringat di malam hari, serta kondisi tubuh yang mudah sakit.
Dengan adanya terobosan ini, kesadaran masyarakat untuk deteksi dini diharapkan makin tinggi. Warga juga diminta konsisten menerapkan pola hidup bersih sehat, seperti memakai masker saat batuk, tidak membuang dahak sembarangan, serta menjaga sirkulasi udara rumah. (hfh/fat/rds)










