SEMARANG, Joglo Jateng – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-56 di Gedung Tgk Ismail Yakub pada Senin (6/4/2026). Peringatan hari lahir institusi ini menjadi momentum krusial untuk menegaskan kembali komitmen kampus yang tidak sekadar mencetak sarjana, tetapi juga bertindak selaku penjaga moral bangsa.
Acara sakral yang diikuti oleh sekitar 500 sivitas akademika dan tamu undangan tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Senat, Prof. Ibnu Hadjar. Ia menegaskan pentingnya kampus agar terus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar visinya.
“UIN Walisongo harus menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Kita wajib meningkatkan kualitas pendidikan, tata kelola yang akuntabel, serta melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki kepekaan sosial yang tinggi,” tegas Prof. Ibnu Hadjar.
Sejalan dengan visi tersebut, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., turut memaparkan berbagai progres strategis universitas dalam setahun terakhir.
Fokus utama kampus saat ini adalah penguatan infrastruktur akademik serta peningkatan daya saing global melalui berbagai inovasi riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak nyata.
BACA JUGA: Rekam Jejak Prof Musahadi, Rektor Baru UIN Walisongo yang Populerkan Fikih Prasmanan
Orasi Provokatif ‘Takut Amerika’
Puncak kemeriahan acara tersebut diwarnai dengan orasi ilmiah yang menggugah dari Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UIN Walisongo, Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed.
Mengusung tajuk Merawat Bumi, Merawat Kemanusiaan: Peran Kedokteran, Konstitusi, dan Nurani Bangsa, ia memaparkan visi besar fakultasnya sebagai penjaga kehidupan manusia.
“FK UIN Walisongo melangkah ke depan dengan terapi regeneratif berbasis stem cell untuk menjawab tantangan penyakit berat. Namun lebih dari itu, kita melahirkan dokter yang mengabdi hingga pelosok dan memahami bahwa kesehatan manusia tidak terpisahkan dari kesehatan bumi,” ujarnya.
Menariknya, orasi ilmiah tersebut juga menyentuh kritik tajam terhadap ketidakadilan global. Sugeng secara lantang menyindir hegemoni asing melalui pantun rakyat yang berbunyi: Buah belimbing dijual di pasar Asemka, hanya kambing yang takut kepada Amerika.
“Kita bukan kambing yang mudah digiring. Kita adalah bangsa besar. Kita tidak boleh takut pada kekuatan mana pun hanya karena mereka memiliki senjata atau ekonomi yang lebih besar. Keadilan tidak berpihak pada kekuatan, melainkan pada kebenaran,” serunya di hadapan para hadirin.
BACA JUGA: Jauh-jauh dari Subang, SMA Baitul Quran ‘Kepincut’ Konsep Unity of Science UIN Walisongo
Sinergi Ilmu dan Keberanian
Sugeng turut mengingatkan bahwa implementasi politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif harus selalu berlandaskan nurani, bukan sekadar terjebak dalam kepentingan negara-negara adidaya.
Menutup rangkaian perayaan tersebut, ia menitipkan pesan moral yang mendalam bagi seluruh keluarga besar kampus.
“Jika ilmu tanpa nurani, ia menjadi alat kekuasaan. Jika nurani tanpa keberanian, ia menjadi bisikan yang hilang. Di usia ke-56 ini, UIN Walisongo harus tetap menjadi pusat ilmu dan penjaga moral yang berani mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah tetaplah salah,” pungkasnya. (hms/rds)










