Kudus  

Perkuat Layanan Kesehatan, Puskesmas Undaan Kudus Gelar Rakor Lintas Sektor

KOORDINASI: Suasana Pertemuan Lintas Sektoral yang digelar di Puskesmas Undaan Kudus pada Senin (6/4/2026). (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – UPTD Puskesmas Undaan Kudus terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui forum koordinasi lintas sektor yang rutin digelar setiap tiga bulan. Langkah strategis ini menjadi sangat krusial untuk mendeteksi secara dini pergeseran tren penyakit warga, yang ternyata kini mulai didominasi oleh masalah degeneratif.

Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk menyatukan persepsi, mengevaluasi kinerja, serta menampung masukan langsung dari pemangku kepentingan di tingkat desa hingga kecamatan.

Kepala Tata Usaha UPTD Puskesmas Undaan, Jakfar, menjelaskan bahwa pertemuan ini bukanlah sekadar agenda formalitas belaka.

“Melainkan bagian dari upaya peningkatan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan,” jelasnya pada Senin (6/4/2026).

Berbagai unsur secara aktif dilibatkan dalam forum tersebut. Mulai dari kepala desa, perwakilan kecamatan, Kantor Urusan Agama (KUA), sektor pendidikan, hingga organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Menurut Jakfar, pola komunikasi yang dibangun dalam forum ini lebih bersifat dialogis berupa pertukaran gagasan dua arah.

“Teman-teman lintas sektor biasanya sudah punya catatan sendiri. Mereka ingin menyampaikan persoalan di wilayahnya, misalnya terkait kasus penyakit tertentu atau kebutuhan layanan tambahan,” ungkapnya.

Waspada Pergeseran ke Penyakit Degeneratif

Selain menampung usulan, rapat ini sekaligus menjadi sarana pemantauan kondisi kesehatan masyarakat yang sebenarnya terjadi di lapangan. Berdasarkan data terbaru, tren penyakit infeksi seperti demam berdarah (DBD) dan tuberkulosis (TBC) di Undaan tercatat relatif rendah.

Sebaliknya, keluhan penyakit degeneratif atau tidak menular justru mendominasi catatan medis fasilitas kesehatan.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit terbanyak. Angka ini disusul oleh keluhan nyeri otot (mialgia), radang sendi (artritis reumatoid), hipertensi, hingga diabetes melitus dan gastritis.

“Sekarang tren penyakit bergeser. Penyakit infeksi sudah tidak terlalu dominan, kecuali ISPA yang sebagian besar disebabkan infeksi virus. Sementara itu, penyakit degeneratif justru meningkat,” terang Jakfar.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya upaya promotif dan preventif untuk diterapkan di tengah masyarakat, terutama soal perbaikan pola makan dan gaya hidup.

Melalui sinergi lintas sektor ini, pihaknya berharap pelayanan kesehatan dapat semakin tepat sasaran sesuai kebutuhan rill di lapangan. Kolaborasi antarinstansi dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik. (adm/fat/rds)