SEMARANG, Joglo Jateng – Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi atas peran perempuan di berbagai bidang. Bagi Nawal Arafah Yasin, semangat Raden Ajeng Kartini masih relevan sebagai kompas perjuangan, khususnya dalam mendorong kesetaraan pendidikan.
Menurut Nawal, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan sumber inspirasi yang terus hidup dalam gerakan perempuan modern. Nilai-nilai perjuangannya dinilai tetap penting, terutama dalam isu pendidikan, kesetaraan, dan pemenuhan hak-hak perempuan.
“Bagi kami, Kartini adalah inspirasi gerakan perempuan masa kini, terutama dalam pendidikan, kesetaraan, dan perjuangan hak perempuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Kartini bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga pelopor nyata dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan. Gagasan Kartini bahkan telah melahirkan sekolah perempuan sejak 1912, termasuk di Semarang, sebuah langkah progresif di tengah keterbatasan zaman.
Momentum Hari Kartini, lanjut Nawal, juga harus dimanfaatkan untuk menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan saat ini. Sebagai Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, ia menekankan pentingnya gerakan “zero kekerasan terhadap perempuan”.
“Bagaimana kita bisa menekan kasus KDRT dan kekerasan seksual yang masih tinggi di Jawa Tengah, itu menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Lebih jauh, Nawal melihat Kartini sebagai teladan perempuan yang mampu melampaui batas domestik dan berperan di ruang publik. Meski hidup dalam keterbatasan, Kartini tetap produktif, berpikir maju, dan memberi dampak luas, nilai yang dinilai harus terus dihidupkan perempuan masa kini.
Di tengah tantangan zaman, pesan Kartini semakin relevan, perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga harus berdaya, bersuara, dan mampu membawa perubahan.
“Semangat ini harus terus dirawat agar perempuan Indonesia mampu berdiri sejajar sekaligus memberi makna bagi lingkungannya,” tandasnya. (hfh/iza)










