Kudus  

Berawal dari Ijazah Ulama, Begini Perjalanan Spiritual Mantan Bupati Kudus H. Musthofa yang Masih Terjaga

FOKUS: Amalan keagamaan ditunjukkan Bupati Kudus dua periode, H. Musthofa, melalui Jam’iyyah Yasin Fadhilah yang hingga kini terus berjalan. (ADAMNAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Konsistensi menjaga amalan keagamaan terus ditunjukkan Bupati Kudus periode 2008-2013 dan 2013-2018 H. Musthofa, melalui Jam’iyyah Yasin Fadhilah yang hingga kini tetap berjalan dan berkembang di tengah masyarakat. Berawal dari sebuah ijazah ulama, kegiatan ini kini tumbuh menjadi gerakan spiritual yang melibatkan banyak kalangan.

Cikal bakal Jam’iyyah Yasin Fadhilah muncul ketika H. Musthofa menjabat sebagai Bupati Kudus periode pertama. Saat bersilaturahmi kepada ulama karismatik KH Sya’roni Ahmadi, ia meminta amalan sebagai pegangan batin dalam menjalankan amanah kepemimpinan.

“Waktu itu saya memang meminta amalan untuk menguatkan batin, agar dalam menjalankan tugas bisa lebih tenang dan istiqomah,” ungkap Musthofa, Rabu (6/5/2026).

Dari pertemuan tersebut, ia menerima ijazah membaca Surat Yasin sebanyak 41 kali. Setelah menelusuri lebih dalam, amalan itu dipahami sebagai Yasin Fadhilah yang memiliki keutamaan serupa. Hal tersebut kemudian dikonfirmasi langsung kepada sang kiai.

“Setelah saya dalami, ternyata yang dimaksud adalah Yasin Fadhilah. Dan beliau membenarkan hal tersebut,” jelasnya.

Sejak itu, pengajian Yasin Fadhilah rutin digelar di Pendopo Kabupaten Kudus pada periode kedua kepemimpinannya. Pembukaan pengajian kala itu bahkan dipimpin langsung oleh KH Sya’roni Ahmadi, menandai dimulainya tradisi yang terus bertahan hingga kini.

Usai tidak lagi menjabat sebagai bupati, kegiatan tersebut tidak berhenti. Pengajian kemudian berpindah ke Loram Wetan, tepatnya di kawasan Makam Bagusan, tempat peristirahatan orang tua H. Musthofa. Meski tak lagi dihadiri pejabat sebagaimana sebelumnya, kegiatan ini tetap ramai oleh masyarakat umum dan para relawan.

Ngaji itu bukan soal tempat atau siapa yang hadir, tapi bagaimana hati bisa menjadi lebih tenang dan dekat dengan Allah,” ujar Musthofa.

Ia mengakui menjaga istikamah bukan perkara mudah, namun dapat dijalani dengan niat serta keyakinan yang kuat.

Saat ini, Jam’iyyah Yasin Fadhilah memiliki sejumlah agenda rutin. Pengajian digelar setiap malam Rabu Pon, disertai santunan anak yatim dan pembacaan manaqib pada sore harinya. Selain itu, terdapat pula kegiatan selapanan Khotmil Qur’an setiap malam Sabtu Kliwon.

Beragam agenda juga digelar di bulan Ramadan, seperti tarawih keliling, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan sosial ke berbagai wilayah.

Ke depan, H. Musthofa berharap kegiatan ini dapat diperluas hingga tingkat kecamatan bahkan desa di seluruh Kabupaten Kudus. Dengan adanya koordinator wilayah, ia berharap syiar Yasin Fadhilah dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Kami ingin ini tidak berhenti di sini saja, tapi bisa berkembang sampai ke desa-desa, agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” tuturnya.

Jam’iyyah ini terbuka untuk umum. Siapa saja dipersilakan hadir dan ikut serta, baik untuk memperkuat spiritualitas maupun mempererat tali silaturahmi.

“Silakan siapa saja datang, ini untuk semua. Kita bersama-sama mencari keberkahan,” pungkasnya. (adm/iza/rds)