PATI, Joglo Jateng – Dugaan pencabulan di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Pati menuai perhatian dari berbagai pihak. Pendampingan korban dinilai sangat dibutuhkan untuk mengusut tuntas kasus ini.
Aktivis perempuan, Muntamah meminta korban kekerasan seksual ini mendapatkan pendampingan. Menurutnya, pendampingan ini diperlukan untuk menjaga psikis para korban.
“Harus ada yang mendampingi secara mental biar korban tidak kecil hati,” kata perempuan yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati itu.
Tak hanya pendampingan, Muntamah juga menilai pihak yang memberikan pendampingan harus bisa menjaga privasi para korban. Hal ini dirasa penting untuk memberikan kenyamanan bagi para korban.
“Persoalan ini privasi, kalaupun pendampingan sesuaikan dengan keinginan anak-anaknya. Jangan sampai didampingi, tapi tidak dijaga privasinya. Harus cocok dengan dia. Ini yang harus kita usahakan,” ungkapnya.
Ia menegaskan kasus ini perlu pengawalan secara intensif dengan membuka posko pengaduan. Posko ini untuk mengetahui korban-korban lainnya yang dibutuhkan keterangannya untuk mengusut tuntas dugaan pencabulan ini.
“Dulu saat ada kasus serupa, korbannya laki-laki. Saat itu kami membuat posko pengaduan. Mula-mula tidak berani. Awalnya satu, dua, tiga korban, tapi kemudian yang lainnya mengaku. Biasanya yang mengadu orang tuanya,” ujarnya.
Dirinya bersama Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) juga berupaya memberikan pendampingan kepada korban.
“Muslimat mempunyai paralegal, paralegal bisa melakukan pendampingan luar biasa karena perempuan. Keibuannya diperlukan untuk pendampingan,” pungkasnya. (lut/rds)










