KENDAL, Joglo Jateng – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal terus mendorong petani kopi meningkatkan produktivitas hasil panen melalui perubahan pola budidaya. Salah satunya dilakukan lewat kegiatan studi tiru yang diikuti Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Pakis, Kecamatan Limbangan ke Kelompok Tani Taman Tani Desa Tamanrejo, Kecamatan Sukorejo, Minggu (24/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para petani mendapatkan pembelajaran mengenai teknik budidaya kopi yang dinilai lebih efektif dibanding pola pertanian konvensional. Materi yang diberikan meliputi teknik pemangkasan tanaman kopi, pembuatan pupuk organik, pestisida organik, hingga pemanfaatan mikroorganisme untuk menjaga kesuburan tanah.
Kepala Tim Kerja Produksi Perkebunan DPP Kabupaten Kendal, Hadi Winarno mengatakan, sebagian besar petani kopi di Kendal masih menggunakan pola budidaya lama. Padahal, peningkatan kualitas dan kuantitas hasil panen dinilai penting untuk mendukung pendapatan petani.
“Petani kami perkenalkan dengan agrosistem yang mencakup pengelolaan air, udara, dan tanah. Selain itu juga teknik pemangkasan tanaman kopi mulai pangkas bentuk hingga pangkas pascapanen agar tanaman lebih produktif,” katanya.
Menurut Hadi, petani tidak memiliki kendali terhadap harga pasar kopi. Karena itu, DPP Kendal lebih fokus mendorong peningkatan hasil produksi dan kualitas panen agar nilai jual kopi tetap meningkat.
“Kalau harga pasar petani tidak bisa mengatur. Maka yang bisa dilakukan adalah bagaimana hasil panennya meningkat dan kualitasnya bagus,” jelasnya.
Ia menerangkan, pada budidaya kopi robusta secara konvensional, satu ranting tanaman biasanya dibiarkan berbuah hingga lima kali panen. Kondisi tersebut dinilai membuat produktivitas tanaman menurun setelah panen ketiga.
Melalui kegiatan studi tiru tersebut, petani diajak mulai menerapkan teknik pemangkasan cabang setelah panen ketiga agar pertumbuhan tunas baru lebih optimal dan hasil panen kembali maksimal.
“Normalnya satu ranting kopi bisa menghasilkan sekitar 30 sampai 45 biji kopi. Kalau dibiarkan terlalu lama tanpa dipangkas, hasilnya justru menurun dan petani bisa merugi,” terangnya.
Ketua Kelompok Tani Taman Tani Desa Tamanrejo, Kusnan mengatakan, peningkatan hasil panen kopi sangat dipengaruhi pola perawatan tanaman. Menurutnya, kopi asal Kendal memiliki potensi besar apabila dikelola secara maksimal.
“Kalau perawatannya bagus, hasilnya pasti meningkat. Potensi kopi Kendal sebenarnya besar, hanya saja selama ini nama kopi Kendal masih menginduk ke daerah lain, terutama Temanggung,” katanya.
Sementara itu, peserta studi tiru asal Kecamatan Limbangan, Debyo berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan petani di wilayahnya sehingga produksi kopi semakin meningkat.
“Kami ingin mengenalkan potensi kopi Sukorejo kepada petani di Limbangan. Harapannya produksi kopi di Limbangan juga bisa melimpah seperti di Desa Tamanrejo,” pungkasnya. (ags/ree/rds)










