Kendati demikian, mayoritas proses berjalan lancar secara online. Namun, Posko Pengaduan di Kantor Disdik Kota Semarang tetap diserbu oleh ratusan wali murid hingga mencatatkan antrean di atas 350 orang.
Kepadatan ini dipicu oleh adanya beberapa kendala administrasi khusus. Salah satunya dialami oleh calon siswa ber-Kartu Keluarga (KK) Semarang namun lulusan dari SD luar kota, sehingga basis data nominasinya belum terekam di dalam sistem online lokal.
Hal tersebut diakui oleh Ferry, warga Banyumanik, yang terpaksa mengantre sejak pukul 10.30 WIB untuk mendaftarkan anaknya yang memiliki prestasi olahraga.
Anaknya merupakan peraih juara dua kejuaraan taekwondo tingkat provinsi. Namun, karena bersekolah di luar daerah, proses input datanya harus dilakukan secara manual dari awal melalui meja pelayanan posko dinas sebelum dialihkan ke sistem online.
“Kita langsung ke SMP yang dituju di Kota Semarang, tapi setelah di sana tidak bisa ikut kuotanya, harus ke sini (Kantor Disdik). Dari pendaftaran awal (diurus di posko) karena sekolahnya dari luar Kota Semarang, tapi kalau KK-nya Semarang,” ungkapnya.
Selain kendala asal sekolah luar daerah, posko pengaduan juga menyelesaikan masalah glitch pada sinkronisasi piagam prestasi di jurnal online serta keterlambatan pemutakhiran data KK baru.
Masalah teknis ini turut dirasakan oleh Aya, seorang wali murid yang sempat panik karena status verifikasi Pramuka Garuda anaknya tidak muncul.
Namun, pihak panitia posko sigap melakukan tindakan tagging data ulang sehingga status pendaftaran sang anak bisa langsung dinyatakan bersih dan sukses hari itu juga.
“Karena sudah diikuti program Sang Juara, sudah terverifikasi, tapi ketika di-input datanya di jurnal SPMB tidak muncul otomatis. Solusinya tagging, jadi langsung diimpor ulang terus kita verifikasi lagi, ternyata sudah masuk,” tandasnya. (hfh/gih/rds)










