Meski demikian, banyak pula masyarakat yang menerima petugas dengan baik. Baginya, pengalaman bertemu berbagai karakter masyarakat justru menjadi bagian paling berkesan selama menjadi petugas sensus.
“Senang bisa menambah pengalaman dan bertemu banyak karakter. Petugas sensus juga sering jadi tempat curhat soal berbagai kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Menurut Nita, tantangan terbesar justru memastikan data yang diberikan responden benar-benar akurat. Petugas harus pandai menggali informasi tanpa membuat responden merasa terbebani. Sebab, validitas data akan menentukan kualitas kebijakan pemerintah di masa mendatang.
“Kalau datanya sesuai kondisi lapangan, baik masyarakat maupun pemerintah sama-sama diuntungkan karena kebijakan yang dibuat akan lebih tepat sasaran,” tuturnya.
Terkendala Isu Perpajakan
Cerita serupa juga dialami petugas sensus lainnya, Nanda Riska. Menurutnya, isu perpajakan menjadi salah satu kendala yang paling sering ditemui selama melakukan pendataan.
“Kendalaku yang paling sering itu soal isu perpajakan,” ujarnya.
Akibat anggapan tersebut, sebagian responden menjadi ragu memberikan jawaban yang sebenarnya. “Mereka takut kalau datanya bocor, jadi sering ragu-ragu saat menjawab pertanyaan,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, para petugas tetap berupaya memberikan penjelasan kepada setiap responden bahwa seluruh informasi yang dikumpulkan hanya digunakan untuk kepentingan statistik, bukan untuk kepentingan perpajakan maupun penyaluran bantuan sosial.
Bagi mereka, keberhasilan sensus bukan hanya diukur dari banyaknya rumah yang berhasil didata, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Sebab, data yang akurat akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan pembangunan dan ekonomi yang lebih tepat sasaran. (uma/iza/rds)










