Kudus  

Warga Jepangpakis Kudus Rela Patungan Belasan Juta demi Meriahkan Tradisi Buka Luwur, Ada Atraksi Apa Saja?

SERU: Agenda budaya tahunan berupa kirab yang digelar warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati dengan cara swadaya atau patungan. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Tradisi Buka Luwur di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus terus berkembang menjadi agenda budaya yang semakin meriah dari tahun ke tahun. Menariknya, kemeriahan kirab yang menyedot ribuan penonton tersebut sebagian besar lahir dari semangat gotong royong dan swadaya masyarakat.

Kepala Desa Jepangpakis, Sakroni mengatakan, pemdes saat ini hanya memberikan dukungan anggaran untuk pelaksanaan kegiatan inti. Kegiatan tersebut berupa kirab dan pengajian.

Total bantuan yang dialokasikan desa untuk puncak kegiatan Buka Luwur Mbah Brojo Kusumo sekitar Rp 7 juta. “Desa membantu untuk kegiatan kirab maupun pengajiannya,” ujarnya, baru-baru ini.

Menurut Sakroni, setiap tahun Desa Jepangpakis menyelenggarakan empat peringatan haul atau Buka Luwur. Yakni Mbah Brojo Kusumo, Mbah Buyut Trawi, Mbah Abdul Karim, dan Mbah Rakinah Mas’ariyah.

Namun, kirab budaya baru digelar pada dua lokasi. Keduanya yakni di Buka Luwur Mbah Brojo Kusumo dan Mbah Abdul Karim.

Ia mengungkapkan, kemeriahan kirab di Mbah Brojo Kusumo justru didukung penuh oleh masyarakat. Setiap RT secara mandiri mengumpulkan iuran untuk menghadirkan berbagai atraksi.

Atraksi tersebut mulai dari iring-iringan ogoh-ogoh hingga penggunaan sound horeg. Sakroni menyebut biaya yang dikeluarkan warga tidak sedikit.

Satu unit sound horeg saja membutuhkan dana sekitar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta. Belum lagi pembuatan ogoh-ogoh, dekorasi, konsumsi, serta kebutuhan lainnya yang membuat biaya di setiap RT mencapai belasan juta rupiah.

“Semuanya ditanggung warga melalui swadaya. Saya sangat bangga karena antusiasme masyarakat luar biasa,” katanya.

“Semakin tahun semakin ramai, bahkan penonton memenuhi sepanjang jalan,” imbuh Sakroni.