SEMARANG, Joglo Jateng – Berdirinya sebuah kota tentu tak lepas dari cerita sejarah yang melatarbelakanginya. Terbentuknya Kota Semarang sendiri, diceritakan tidak terlepas dari proses penyebaran agama Islam.
Pegiat Sejarah, Rukardi Achmadi mengatakan, cerita sejarah Kota Atlas bersumber pada kitab Babad Tanah Jawi. Selain itu, dalam satu riset yang dilakukan Amin Budiman dijelaskan bahwa dahulunya wilayah Semarang adalah lautan dan kumpulan desa-desa yang ada di daerah perbukitan. Seperti Gajahmungkur, Tinjomulyo, dan kawasan-kawasan lain.
Rukardi menerangkan, dalam cerita Babad yang bercampur dengan cerita mitos, suatu saat desa-desa tersebut didatangi oleh seorang ulama bernama Ki Ageng Pandanaran yang asal-usulnya masih diperdebatkan. Dalam satu versi, ada yang menyebutkan bahwa dia merupakan ulama dari Asia Tengah yang datang ke Pulau Jawa dan sempat menjadi penguasa di salah satu wilayah Jawa Timur. Ada pula yang menyebutkan, Ki Ageng Pandanaran adalah keturunan Kerajaan Demak.
“Kemudian datang ke Semarang diutus oleh penguasa Demak saat itu untuk mengislamkan daerah itu. Singkat cerita seseorang yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Pandanaran itu mengislamkan penduduk di desa-desa itu,” ucap Rukardi saat dihubungi Joglo Jateng, Rabu (1/5/24).
Lalu, lanjut dia, Ki Ageng Pandanaran mendirikan pondokan di daerah Mugas yang sekarang terdapat makamnya. Tempat itu menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Semarang.
“Kawasan Semarang bawah perlahan-lahan berproses untuk pengendapan lumpur yang ada di kali-kali semarang seperti Kali Garang. Sehingga kawasan semarang yang tadinya lautan berubah menjadi daratan,” jelas founder Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang itu.
Ketika proses pendangkalan, kata Rukardi, Ki Ageng Pandan Arang yang ada di daerah perbukitan memutuskan untuk turun ke bawah untuk mendirikan permukiman baru di kawasan Semarang bawah. Kemudian terbentuklah wilayah yang kini dikenal dengan Kota Semarang. Ki Ageng Pandan Arang ditetapan oleh penguasa Demak yakni Sultan Demak sebagai adipati dan wilayah ini menjadi bagian dari Kerajaan Demak.
“Pada saat itu wilayahnya belum ada nama. Dan nama Semarang akhirnya diberikan oleh sahabat Ki Ageng Pandanaran yaitu Syekh Wali Lanang yang memberikan permukiman baru yang ditempati oleh mereka dan pengikutnya,” terangnya.
Alasan diberi nama Asem Arang, lanjut Rukardi, karena daerah permukiman itu ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang ada waktu itu. Sehingga dinamakan Semarang. Sejak itu, banyak pendatang baru baik dari dalam maupun luar negeri.
“Karena di sini tempat pelabuhan yang ramai jadi para pedagang yang datang orang-orang jawa seperti Madura, Cirebon. Kalau luar Jawa itu ada Kalimantan, Sumatera dan luar negeri ada Tiongkok, Belanda, sampai Eropa,” tambahnya.
Kota Semarang pun dikenal dengan kota metropolis yang penduduknya sangat plural. Jadi, tidak hanya orang Jawa yang tinggal di sini, tapi juga campuran dari berbagai penjuru Nusantara maupun dunia.
“Semenjak itu Kota Semarang semakin bertumbuh menjadi kota yang perdagangannya maju. Kalau dari beberapa studi, di Semarang bawah saat itu Ki Ageng Pandanaran dan para pengikutnya selain bercocok tanam seperti padi, dan produk perkebunan lain, mereka juga bekerja sebagai nelayan,” ungkap Rukardi. (int/adf)










