Figur  

Jadikan RSI Sunan Kudus sebagai Pilihan Utama Masyarakat

Pelayanan Merata dan Berkualitas

RESMI: dr. Syaifudin menerima berkas dari Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan Islam (Yakis), H Noor Badi usai pelantikan Direksi RSI Sunan Kudus 2025-2030. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

TIDAK semua pemimpin lahir dari rencana yang matang. Beberapa justru terbentuk dari perjalanan yang berliku dan pengalaman hidup yang membentuk karakter dan kepekaan. Salah satunya adalah dr. Syaifudin, Direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus, yang kisah hidupnya sarat akan ketekunan, semangat belajar dan jiwa sosial.

Lahir dan tumbuh dari keluarga pedagang di Pasar Mayong, Jepara, Syaifudin, terbiasa bekerja keras sejak kecil. Dirinya menghabiskan masa remajanya membantu orang tua berjualan es lilin. “Pokoknya apapun yang bisa menghasilkan uang, kami jual,” ujar pria kelahiran Jepara, 21 November 1980 itu.

‎‎Menurutnya, kebiasaan tersebutlah yang akhirnya membentuk jiwa mandiri dan wirausahanya saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip).

Awalnya, menjadi dokter bukan cita-cita utama. Ia justru lebih menyukai cabang ilmu kimia dan sempat menjalani kuliah satu tahun di Jurusan Kimia Undip sebelum akhirnya menerima ajakan teman kos untuk mencoba masuk kedokteran.

‎‎”Iseng-iseng ikut UMPTN, ternyata lolos. Waktu itu saya tidak menyangka,” ungkapnya.

‎‎Dunia kedokteran menuntut adaptasi besar bagi Syaifudin. Dari kuliah santai di kimia, ia harus berhadapan dengan rutinitas ketat dunia medis. Seperti praktikum harian, laporan, ujian, hingga tanggung jawab besar.

Direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus, dr. Syaifudin.

“Butuh satu tahun adaptasi agar bisa membagi waktu antara belajar dan bertahan hidup,” ujarnya.

Sejak semester pertengahan, ia tak lagi meminta uang pada orang tua. Syaifudin mengandalkan hasil mengajar les privat dan berbagai usaha lain untuk membiayai hidup dan kuliahnya.

Syaifudin kemudian lulus pada 2007. Dirinya mendapatkan kesempatan emas belajar langsung di Rumah Sakit Sema, Istanbul, Turki, rumah sakit pendidikan yang telah mengantongi akreditasi internasional.

‎‎”Saya belajar manajemen bukan dari buku, tapi dari mengamati langsung bagaimana seorang direktur rumah sakit yang juga dokter jantung. Cara ia memimpin, berinteraksi, dan membangun sistem,” tuturnya.