DI sudut lobi Hotel Sae Inn Kendal, berdiri sebuah kafe mungil berukuran 2×2 meter. Meski tampil sederhana, tempat ini menyimpan kisah luar biasa. Karena di sini barista tunarungu meracik kopi dengan cinta, menyampaikan rasa tanpa kata.
Kafe trsebut diberi nama Kafe Bicara Rasa yang merupakan simbol bahwa rasa bisa menjadi bahasa, dan bahwa keterbatasan tak pernah membatasi kreativitas. Inisiatif ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Hotel Sae Inn yang ditujukan untuk memberdayakan penyandang disabilitas.
Bekerja sama dengan Dinas Sosial Kabupaten Kendal, hotel berbintang ini sebelumnya menggelar pelatihan barista selama tiga hari untuk 12 penyandang tunarungu. Mereka dibekali keterampilan meracik kopi dari tahap dasar hingga lanjutan, termasuk pengenalan alat dan seni penyajian secara profesional.
Usai pelatihan, mereka tak hanya mendapatkan sertifikat. Sebanyak tujuh peserta, bahkan langsung diberi kesempatan bekerja di kafe yang dibuka di lobi hotel. Di sinilah mereka menunjukkan kepiawaian menyajikan espresso, cappuccino, dan latte, yang diracik dengan ketekunan dan sepenuh hati.
Salah satu tamu hotel, Kunadi mengaku terkesan. “Saya pesan cappuccino. Rasanya luar biasa creamy dan pas. Saya bahkan tidak menyangka bahwa kopi ini dibuat oleh barista tunarungu,” katanya, Minggu (3/8/2025).
Meskipun komunikasi dilakukan lewat gerakan tangan dan ekspresi wajah, tak ada hambatan dalam pelayanan. Senyum ramah dan gerak tubuh yang bersahabat menjadi bahasa universal yang menjembatani mereka dengan pelanggan.










