JEPARA, Joglo Jateng – Keterbatasan pendengaran dan kesulitan berbicara tak menghalangi Dava Pramudia Perkasa (17) untuk terus berkarya.
Siswa kelas XII SLB Negeri Jepara itu membuktikan bahwa kreativitas mampu menjadi bahasa yang dipahami semua orang.
Saat Joglo Jateng bertemu dengan Dava, sebenarnya Joglo Jateng ingin mewawancarai secara langsung. Namun, karena merupakan penyandang tunarungu dan memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi verbal, proses wawancara didampingi sekaligus dijelaskan oleh guru pembimbingnya.
Guru pembimbing tersebut, Ika Farika, menerjemahkannya melalui bahasa isyarat.
Ika mengatakan, bakat seni Dava sebenarnya cukup beragam. Selain melukis, ia juga pernah menekuni pencak silat hingga membuat buket dan mengikuti lomba hantaran.
Namun, kemampuan melukis menjadi potensi yang paling menonjol.
Lukisan Dava sebagian besar mengangkat tema kebudayaan dan kekayaan Indonesia. Kata Ika, karya-karyanya menjadi bukti perjalanan panjangnya mengasah bakat yang awalnya hanya berawal dari kegemaran menggambar sejak kecil.
“Kalau bakatnya sebenarnya banyak. Pernah ikut pencak silat, membuat buket, sampai lomba hantaran,” jelas Ika kepada Joglo Jateng, Minggu (12/7/2026).
“Tetapi yang paling terlihat menonjol memang di seni lukis,” sambungnya.
Menurut Ika, Dava mulai serius menekuni seni lukis sejak duduk di bangku kelas X SMA. Awalnya ia belajar secara otodidak.
Seiring waktu, kemampuan tersebut terus diarahkan oleh guru hingga berkembang menjadi prestasi.
“Sejak kecil memang suka menggambar. Tapi kemampuan melukisnya benar-benar terasah ketika kelas X,” terangnya.
“Awalnya otodidak, kemudian kami arahkan dan terus diasah,” tambahnya.
Kecintaannya terhadap dunia seni juga tidak lepas dari lingkungan keluarga yang memiliki darah seni. Ibunya merupakan seorang sinden, sedangkan sang ayah berkecimpung di bidang musik.
Di rumahnya di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Dava kerap menghabiskan waktu di kamar untuk melukis. Baginya, melukis menjadi cara mengekspresikan ide dan menuangkan kreativitas.
“Dia itu sering di kamar, karena kreativitasnya jadi membutuhkan waktu sendiri,” ujarnya.










