Figur  

Dosen UMKU Sunardi, Dalang yang Konsisten Lestarikan Wayang Kulit

20 Tahun Ndalang untuk Lestarikan Wayang

SUMRINGAH: Dr. Ir. H. Sunardi, di sela-sela kegiatan ndalang, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

DI tengah semakin memudarnya minat generasi muda terhadap budaya Jawa, Dr. Ir. H. Sunardi, M.Pi., M.H., dosen Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), memilih jalan berbeda. Mantan kepala dinas di Pemkab Kudus itu menekuni dunia pedalangan sebagai upaya melestarikan seni wayang kulit.

Sunardi mengaku awalnya hanya menjadi pranata acara manten. Namun kecintaannya pada seni dan budaya membuatnya tergerak mendalami dunia pedalangan.

“Selain karena hobi, juga untuk melestarikan budaya. Wayang kulit itu adiluhung, penuh nilai filosofis. Tontonan sekaligus tuntunan,” ujarnya.

Meski sibuk mengajar di UMK, UMKU, dan Universitas Terbuka, serta pernah menduduki sejumlah jabatan penting, Sunardi telah menekuni pedalangan lebih dari 20 tahun. Ia belajar secara otodidak dan berguru pada dalang-dalang senior.

Kini, sebagai Sekretaris Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kudus, ia kerap mementaskan wayang untuk penerangan, penyuluhan, hingga menyampaikan pesan pembangunan.

“Banyak anak sekarang bahkan tidak mengenal bahasa Jawa. Maka ketika menonton wayang, mereka tidak paham cerita maupun tembangnya. Ini memprihatinkan. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Padahal, orang luar negeri banyak yang belajar wayang dan gamelan,” tuturnya.

Dengan pengalamannya sebagai mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus sekaligus pembina ketoprak, Sunardi berharap generasi muda masih mau peduli dan melestarikan budaya Jawa.

“Semoga anak muda, mahasiswa, pelajar, masih ada yang peduli akan budaya Jawa ini,” harapnya. (sam/iza)