KUDUS, Joglo Jateng – Di balik canting yang menggoreskan malam di selembar kain, tersimpan kisah luar biasa dari seorang perempuan tangguh bernama Yuli Astuti, pendiri Muria Batik Kudus.
Bukan sekadar pengusaha batik, Yuli adalah pelita yang menyulut nyala harapan di tengah kepunahan batik Kudus. Lebih dari itu, ia merangkul hati anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kalau mau tahu, batik kudus itu sempat benar-benar punah. Pada 2005, tidak ada lagi pembatik di sini. Kosong. Sunyi. Saya mulai semua dari nol,” ungkapnya.
Berbekal tekad dan keberanian, Yuli melangkah menyusuri jejak-jejak batik yang nyaris hilang. Ia belajar ke Pekalongan, Solo dan Yogyakarta. Dua tahun ia jelajahi kota demi kota, lorong demi lorong, demi satu tujuan yakni menyelamatkan warisan batik Kudus.
“Saya ini nekat, demi motif kapal kandas, motif parijoto, motif kretek saya telusuri sejarah dan tanah Kudus yang katanya dulu lautan,” ceritanya lirih.

Namun, perjuangannya tak hanya soal motif. Pada 2013, langkahnya berbelok lebih dalam, lebih manusiawi. Ia mulai membuka pintu lebar-lebar untuk anak-anak berkebutuhan khusus dari sekolah luar biasa (SLB). Bukan kunjungan sekali dua kali, tapi kesempatan magang nyata selama berbulan-bulan.
“Saya pikir, kenapa tidak. Mereka punya potensi luar biasa. Kalau diarahkan, mereka bisa lebih fokus, lebih totalitas. Dan ya, saya jadi mentor, sekaligus ibu dan teman curhat mereka,” lanjutnya.










