Prof Badri: Indonesia kekurangan 2,3 juta dosen S3, PMDSU diperkuat di Semarang

Prof Badri Munir Sukoco memberikan keterangan terkait kebutuhan dosen berkualifikasi S3 dan penguatan PMDSU, Jumat (26/12/2025)
Direktur Sumber Daya Dirjen Dikti Kemdiktisaintek, Prof Sri Suning Kusumawardani (kiri), Staf Khusus Menteri Kemendiktisaintek, Prof Badri Munir Sukoco (kanan). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng — Staf Khusus Menteri Kemdiktisaintek Prof Badri Munir Sukoco menyebut Indonesia menghadapi kekurangan signifikan tenaga pendidik dosen, terutama yang berkualifikasi doktor (S3), sebanyak 2,3 juta orang. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tinggi.

Badri menjelaskan, untuk mendukung transformasi menuju knowledge-based economy, Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 2,3 juta mahasiswa pascasarjana. Ia menyebut komposisi mahasiswa di Indonesia hampir 10 juta.

“Dari 2,3 juta itu idealnya sepertiga sampai 40 persen yang S3. Sisanya itu yang S2,” katanya saat dikonfirmasi ulang, Jumat (26/12/2025).

Ia menekankan lulusan S3 penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memperkuat riset nasional. “Untuk konteks perguruan tinggi saja sebenarnya kebutuhan dosen yang berkualifikasi S3 itu masih cukup besar,” ujarnya.

Data Proporsi Dosen S3 di PTN dan PTS

Badri mengungkapkan, perguruan tinggi dengan proporsi dosen berkualifikasi doktor (S3) tertinggi di kelompok Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) masih didominasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan capaian 64,54 persen. Sementara itu, 16 PTNBH lainnya rata-rata baru mencapai 45,16 persen.

Pada PTN berstatus Badan Layanan Umum (BLU), persentase dosen S3 tercatat 27,84 persen. Badri menyebut PTN satker sebesar 15,43 persen, serta 5 perguruan tinggi swasta (PTS) teratas rata-rata berada di kisaran 34 persen.

Ia juga menyampaikan, angka tersebut tertinggal dibanding Malaysia, yang seluruh dosennya telah berkualifikasi doktor.