UMKM  

Kelompok Perempuan Petani Jepara Sulap Rempah Jadi Produk Herbal, Tembus Pasar Bali

PRODUK: Ketua KWT Rukun Santosa III Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Narti, saat menunjukkan produk herbal olahan kelompoknya, Rabu (29/4/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Kaum perempuan di Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, membuktikan bahwa letak geografis yang terpencil bukan penghalang untuk berinovasi. Mereka sukses mengolah hasil bumi mentah menjadi ragam produk herbal Jepara yang bernilai ekonomis tinggi hingga berhasil menembus pasar antarprovinsi.

Transformasi ekonomi akar rumput ini dinahkodai oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Rukun Santosa III. Upaya pemberdayaan ini diklaim berhasil mengubah pola pikir warga, dari sekadar menjual panen secara mentah, kini beralih menjadi produsen UMKM yang mandiri.

Ketua KWT Rukun Santosa III, Narti, menceritakan bahwa pergerakan kelompok ini diinisiasi sejak November 2023 silam. Dari awalnya hanya beranggotakan 25 orang, kini perkumpulan produktif tersebut telah berkembang melibatkan 35 perempuan petani.

“Setiap Jumat Kliwon kami produksi bersama. Dari situ ibu-ibu belajar bareng, dari awal sampai jadi produk,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/4/2026).

Melimpahnya Sereh Jadi Peluang Usaha

Narti menjelaskan, lahirnya UMKM mandiri tingkat desa ini berawal dari jeli melihat melimpahnya panen tanaman rempah, khususnya sereh (serai). Dalam sehari, hasil panen bahan baku alami di dukuh tersebut sangat masif, bahkan bisa menyentuh angka tiga mobil pikap.

“Awalnya dari melihat potensi sereh yang melimpah. Akhirnya kami coba olah jadi produk herbal,” tuturnya.

Inovasi pengolahan yang dilakukan para warga ini perlahan membuahkan hasil. Kini, kelompok tersebut telah meluncurkan empat varian produk andalan, yakni lengkunis (lengkuas, kunir, manis), jeruk kering, kopi robusta, dan wedang uwuh.

Seluruh produk olahan KWT Rukun Santosa III ini dijamin aman karena telah mengantongi legalitas standar produksi yang ketat, mulai dari PIRT, NIB, hingga sertifikat halal.

Tembus Bali di Tengah Keterbatasan

Berkat pendampingan kualitas dari berbagai elemen—seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah, tenaga farmasi, hingga civitas akademika kampus—produk racikan perempuan petani ini semakin diminati konsumen. Area distribusinya perlahan kian meluas menyasar kota-kota besar seperti Semarang, Jakarta, dan Bali.

“Kalau yang terdekat saya titipkan di warung wedang, balai desa, toko setempat,” tambahnya.

Kendati pesanan mulai mengalir dari lapak online, roda usaha warga Desa Somosari ini bukannya tanpa rintangan. Lokasi permukiman mereka yang cukup pelosok dan jauh dari akses layanan jasa pengiriman menjadi tantangan logistik tersendiri.

“Di sini jauh dari jasa pengiriman, dan tidak semua ibu-ibu bisa naik motor,” keluhnya.

Terlepas dari keterbatasan infrastruktur pendukung tersebut, Narti memastikan produk kesehatan buatan kelompoknya dipasarkan dengan harga yang sangat merakyat, berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. Minuman rempah ini tak hanya nikmat, tetapi juga diyakini ampuh menambah stamina, membersihkan darah, merangsang nafsu makan, hingga merelaksasi otot tubuh. (oka/gih/rds)