PURWOREJO, Joglo Jateng – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, aktivitas para perajin besek di Desa Banyuasin Separe, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, semakin meningkat. Kerajinan anyaman bambu yang menjadi penopang ekonomi warga kembali diburu pasar, khususnya sebagai wadah pembagian daging kurban.
Kepala Desa Banyuasin Separe, Hadi Mustofa mengatakan, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan kerajinan anyaman bambu. Mayoritas perempuan di desa tersebut menjadi perajin besek untuk membantu perekonomian keluarga.
“Sekitar 80 persen warga kami petani. Sementara ibu-ibu, mungkin 65 persen atau lebih, menjadi perajin besek. Karena daerah kami pegunungan dan tergolong terpencil, kerajinan besek menjadi andalan ekonomi keluarga,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Menurut Hadi, aktivitas menganyam telah menjadi rutinitas harian. Banyak ibu rumah tangga mengerjakan besek sambil menunggu anak sekolah di TK atau PAUD.
“Kalau menunggu anak sekolah, ibu-ibu biasanya sambil menganyam. Itu pekerjaan yang bisa dilakukan untuk membantu kebutuhan sehari-hari,” terangnya.
Produk besek yang dihasilkan warga beragam, mulai dari ukuran pakan 6, pakan 8, hingga ukuran kecil (piti). Menjelang Iduladha, permintaan besek kecil meningkat tajam karena banyak digunakan sebagai wadah daging kurban.
“Kalau musim seperti sekarang, permintaan besek kecil meningkat untuk tempat daging kurban. Biasanya dikirim ke kota-kota,” tambahnya.
Hadi menjelaskan, hasil kerajinan warga umumnya dipasarkan melalui tengkulak yang datang langsung ke desa. Pembeli berasal dari wilayah Purworejo, Kecamatan Bener, hingga Yogyakarta.
“Hampir setiap hari ada pedagang datang dengan kendaraan untuk mengambil besek. Jadi masyarakat jarang menjual sendiri keluar desa,” jelasnya.










