Kades di Purworejo Ini Buka Kursus Bahasa Jepang demi Bantu Warganya Kerja ke Luar Negeri

EDUKASI: Suasana pembelajaran bahasa Jepang di tempat kursus milik Supono, Kades Kunir, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo. (MARNIE/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Ditantang untuk membuat program yang bermanfaat untuk warga, Kepala Desa (Kades) Kunir, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo membuat terobosan dengan membuka kursus bahasa Jepang.

Tujuannya, agar bisa memangkas biaya pendidikan ketika akan berangkat magang atau bekerja ke Jepang.

Tak hanya membuka kursus, Supono juga bekerja sama dengan LPK SO Momiji Gakuen yang berpusat di Kabupaten Batang.

Untuk pengajar bahasa Jepang atau sensei pun tak main-main, dia merekrut sarjana sastra Jepang.

Lokasi kursus ada di rumah Kades Supono di Dusun Candirejo RT 2 RW 2, Desa Kunir. Waktu pembelajarannya lima hari dalam seminggu, mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.

Saat ini, ada 20 siswa yang ikut. Mereka dibagi menjadi dua kali waktu pembelajaran.

“Kursus ini saya buka sejak Januari 2026. Tujuan saya buka kursus sekaligus kerja sama dengan LPK ke Jepang, salah satunya untuk mengentaskan kemiskinan,” tutur Supono di Kantor Desa Kunir, Kamis (2/7/2026).

“Serta mengubah nasib warga dengan bekerja ke Jepang,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, untuk bisa mengambil kerja ke Jepang, para murid memerlukan waktu belajar 3-4 bulan sampai bab ke-25.

Setiap hari mereka belajar bicara dan menulis huruf Hiragana, Katakana, dan Kanji.

Meskipun belum lama berdiri, tempat kursus ini telah berhasil memberangkatkan 10 muridnya untuk ikut tes wawancara (mensetsu) Jepang di LPK SO Momiji Gakuen Batang.

Untuk mengikuti kursus ini, setiap murid dipungut biaya Rp 700 ribu per bulan.

Salah satu siswa yang akan ikut mensetsu, Isnaeni Suciati Latifah asal Kecamatan Kemiri mengatakan, dia ikut kursus ini memang untuk bisa berbahasa dan kerja ke Jepang.

“Saya memilih job di bidang pengolahan makanan dan perhotelan,” terangnya.

“Kalau kesulitan belajar bahasa Jepang, paling hafalan, kosakata, dan huruf Kanji. Untuk baca tulis Hiragana dan Katakana, bisa,” pungkas Isnaeni. (mrn/ree/rds)