DEMAK, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak terus mendorong bertambahnya jumlah Sekolah Adiwiyata.
Hal itu dilakukan sebagai upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini.
Hingga 2025, tercatat sebanyak 144 sekolah di Kabupaten Demak telah menyandang predikat Sekolah Adiwiyata. Jumlah itu diharapkan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak, Mulyanto mengatakan, pemerintah daerah telah menerima target dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Target tersebut menginstruksikan daerah untuk menambah jumlah sekolah yang meraih predikat Adiwiyata setiap tahunnya.
Hal itu menjadi acuan bagi pemerintah daerah bersama satuan pendidikan dalam memperkuat pendidikan lingkungan hidup.
“Tahun 2026 ditargetkan ada penambahan 20 sekolah. Selanjutnya pada 2027 dan 2028 masing-masing ditargetkan bertambah 23 sekolah,” ujarnya.
“Kemudian pada 2029 dan 2030 masing-masing ditargetkan bertambah 24 sekolah,” imbuh Mulyanto.
Menurutnya, pencapaian target tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, guru, siswa, hingga masyarakat.
Program Adiwiyata tidak hanya berorientasi pada penghargaan, tetapi lebih kepada pembentukan karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ia menjelaskan, persyaratan mengikuti Adiwiyata pada dasarnya tidak mengalami perubahan berarti. Penyesuaian yang terjadi banyak berkaitan dengan aspek teknis.
Misalnya seperti sistem pengisian aplikasi penilaian yang mengikuti perkembangan kebijakan kementerian.
Meski demikian, pola penilaian kini lebih menitikberatkan pada proses dibandingkan hasil akhir.
Tim penilai akan melihat perkembangan yang dilakukan sekolah sejak tahap awal hingga pelaksanaan penilaian berlangsung.
Karena itu, seluruh kegiatan lingkungan harus benar-benar dijalankan secara berkelanjutan dan melibatkan warga sekolah.
“Keterlibatan siswa menjadi poin yang paling penting. Kalau hanya membuat taman atau menanam pohon dengan menggunakan tenaga dari luar tanpa melibatkan siswa, tentu nilai yang diperoleh tidak akan maksimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai aksi sederhana namun berdampak nyata menjadi bagian penting dalam penilaian.
Misalnya pemanfaatan air bekas wudu yang ditampung untuk menyiram tanaman, atau pengelolaan air hujan melalui saluran menuju kolam ikan sehingga airnya dapat dimanfaatkan kembali.
“Setiap inovasi lingkungan memiliki bobot penilaian yang berbeda sesuai manfaat dan keberlanjutannya,” tandasnya.
Program Adiwiyata sendiri memiliki empat tingkatan penghargaan.










