BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Banjarnegara mengambil langkah taktis untuk meningkatkan mutu produk tembakau lokal.
Upaya ini diwujudkan lewat penyelenggaraan pelatihan intensif blending (pencampuran ramuan) dan linting (proses pembuatan rokok) bagi karyawan pabrik rokok di wilayah setempat.
Pelatihan yang didanai oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ini menjadi momentum perdana bagi Bidang Perindustrian Banjarnegara.
Hal ini dalam upaya mengoptimalkan serapan dana cukai tersebut.
Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop UKM Banjarnegara, Yusep Handoko menjelaskan, esensi dari pelatihan selama 11 hari ini adalah untuk mendongkrak kualitas keterampilan pekerja.
Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan produktivitas pabrik rokok legal di Banjarnegara.
“Blending itu adalah mencampur tembakau dengan ramuan-ramuannya, untuk linting itu adalah bagaimana proses membuat rokoknya,” ujar Yusep kepada Joglo Jateng, Rabu (8/7/2026).
“Kegiatan ini didukung oleh dana DBHCHT, baru pertama kali kita mendapatkan dana ini untuk di bidang industri sebesar Rp 100 juta,” tambahnya.
Tujuannya tidak lain untuk peningkatan kualitas pengetahuan SDM dan kualitas hasil pelintingan itu sendiri.
Menurut Yusep, sebelum adanya pelatihan ini, kapasitas produksi rata-rata seorang pekerja linting manual berkisar antara 600 hingga 800 batang rokok per hari.
Melalui transfer ilmu yang tepat, pihak dinas mematok target lompatan produktivitas yang signifikan.
“Dengan adanya pelatihan ini, harapannya bisa lebih dari itu, paling tidak di angka atas 2.000-an batang per hari,” imbuhnya.
“Sehingga, ini akan menimbulkan dampak terhadap kualitas dan hasil produksi, yang pada akhirnya membantu perusahaan rokok memenuhi target pasarnya,” kata Yusep.
Pelatihan yang berlangsung sejak 7 hingga 17 Juli 2026 ini diikuti oleh 35 personel.
Mereka merupakan perwakilan dari tiga pabrik rokok legal di Banjarnegara.










