Wabah Aratan Sebabkan Ratusan Ayam Mati

Ainun Naim warga Desa Caruban
WABAH: Ainun Naim warga Desa Caruban saat memperlihatkan kandang ayamnya yang kosong, belum lama ini. (SHOFWAN ZA’IM / JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng– Terserang wabah aratan, ratusan ayam di Caruban, Kecamatan Lasem mati. Tepatnya berada di RT 01 RW 03, menjadi daerah paling banyak kehilangan ayamnya karena wabah ini.

Ainun Naim (22), salah satu warga RT 1 RW 03 Caruban mengaku, wabah aratan menyebabkan kematian 25 ekor dari 30-an ekor ayam yang ia pelihara. Jika ditaksir, kira-kira ia mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 3 juta.

Seturut pengakuannya, ayam yang terserang wabah aratan bisa mati secara mendadak. Umumnya ayam yang sudah terserang wabah ini memiliki ciri-ciri antara lain, mendadak kurus, kotorannya menjadi berwarna putih, kepalanya membiru, dan ada sedikit benjolan di area leher.

“Kalau sudah begitu, nggak bisa diapa-apain lagi. Ya sudah mati aja jaminannya,” ujarnya.

Melihat ayam-ayamnya bergelimpangan di kandang, Ainun mengaku hanya bisa pasrah. Pasalnya, menurutnya wabah aratan merupakan wabah tahunan yang pasti terjadi dan menyerang ayam-ayam ternak.

Sebelumnya ia mengatakan selalu rutin memberikan vitamin terhadap ayam-ayam peliharaannya. Hanya saja dalam kasus ini ketahanan tubuh ayam menjadi penentu.

“Bagi ayam yang memiliki ketahanan cukup kuat, pastinya nggak akan terserang dengan wabah aratan. Sebaliknya, bagi ayam yang dengan daya tahan yang rendah, sangat rentan terserang dan mati,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai tindakan dari pihak perangkat desa, ia menjelaskan bahwa sejauh ini perangkat desa tidak melakukan tindakan khusus. Misalnya untuk berkoordinasi dengan pihak Dinas Peternakan dan Pangan Kabupaten Rembang guna melakukan penanganan dan langkah antisipatif.

“Aratan ini wabah tahunan. Jadi kayak sudahlah, memang udah saatnya (ayam-ayam mati, red). Jadi pihak desa nggak terlalu ambil tindakan,” tuturnya.

Aratan sendiri bagi masyarakat setempat merupakan sebutan untuk peralihan musim atau pancaroba. Pada masa-masa ini, seringkali ayam-ayam mendadak mati tanpa diketahui sebabnya. Dari sini kemudian masyarakat setempat menyebutnya sebagai wabah aratan.

Tak hanya Naim, sejumlah warga RT 01 RW 03 juga mengalami hal serupa. Termasuk Kusnan (49), dan Marjuki (45) yang mengaku sekitar 40-an ekor ayamnya mati karena wabah ini. Tak jauh beda dari Naim, Kusnan juga mengaku hanya bisa pasrah, mengingat banyaknya desa lain yang juga mengalami kasus serupa.

“Ya pasrah saja. Urusan begini kayaknya nggak harus sampai ke Dinas. Wong tahunan kok,” pungkasnya. (cr6/fat)