Atasi Cuaca Ekstrem, Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang Galakkan Penanaman Pohon

SUASANA: Sepanjang ruas jalan Kalibanteng nampak terlihat pohon yang sudah tertanam di depan Taman Makam Pahlawan, Senin (11/10). (DICKRI TIFANI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang merespon cuaca ekstrem di Semarang dengan cara membangkitkan kembali gerakan menanam pohon. Sebab, langkah seperti ini perlu dilakukan untuk menghasilkan oksigen dan membuat cuaca kembali sejuk.

“Artinya kalau setiap hari ada oksigen yang dihasilkan, maka kualitas udara, suhu akan semakin baik,” kata Kepala DLH Kota Semarang Sapto Adi Sugihartono, Senin (11/10).

Untuk perbaikan kualitas udara dan hemat energi tersebut pihaknya meminta masyarakat bijak dalam penggunaan energi. Satu di antaranya pengurangan listrik ketika tidak digunakan dan penggunaan air secukupnya. “Kalau bisa menggunakan energi terbarukan,” paparnya.

Sapto melanjutkan, peristiwa cuaca ekstrem bisa diatasi melalui kerja sama masyarakat, komunitas hingga pemerintah. Menurutnya, pemerintah sudah menetapkan sistem registrasi nasional untuk mencatat upaya yang dilakukan kelompok masyarakat perihal adaptasi dan mitigasi perubahan iklim itu.

“Itu bisa diketahui seberapa jauh kontribusi kita melakukan upaya penurunan emosi gas kaca dan emisi karbon,” jelasnya.

Pihaknya bahkan sudah melakukan gerakan dalam membangun produksi oksigen melalui program Jumat Menanam. Gerakan ini menggandeng beberapa komunitas dan kelompok masyarakat. “Mungkin hasilnya saat ini belum terlihat. Tetapi dua sampai tiga tahun yang akan datang, akan bisa dirasakan manfaatnya,” tuturnya.

Ia menyebut ada sekitar 50 pohon berbagai jenis sudah ditanam. Kemudian lokasi penanaman pun bervariasi, dimulai dari wilayah pesisir hingga di area lingkungan masyarakat.

“Kami sudah melakukan gerakan menanam putaran ke-35. Untuk jenis pohon yang ditanam, termasuk pohon-pohon konservasi. Seperti sukun, mangga, cemara laut, ketapang kencana, dan lainnya,” ucapnya.

Sapto berharap, gerakan tersebut bisa diaplikasikan kepada masyarakat sehingga menjadi kebiasaan aktivitas sehari-hari. “Bisa menjadi kebiasaan, khususnya warga Kota Semarang,” ujarnya. (dik/gih)