Figur  

Tekuni Hobi Menulis, Rohmah Hasilkan Belasan Karya

Siti Rohmah
Siti Rohmah. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

SEJAK kecil, Siti Rohmah menyukai dunia tulis menulis. Ia mulai menulis dalam bentuk puisi dan artikel opini. Dari puisi, ia kemudian merambah ke cerpen, kemudian novel.

Hobinya itu, ditunjang dengan kesukaannya berkenalan dengan orang asing. Menurutnya, hidup adalah jalan dari satu masalah ke masalah lainnya.

“Aku orangnya suka step by step. Udah bisa ini, terus ini. Nah pas itu, dapet saran dari dosen, masa cuma bisa baca doang, ga berkarya,” ujar perempuan yang suka membaca dan traveling itu, belum lama ini.

Saat SMA, ia menjadi pimpinan redaksi di mading sekolah. Ia pun mulai aktif ikut seminar penulisan. Ketertarikannya di dunia tulis menulis ia tekuni sampai di jenjang perguruan tinggi. Masa-masa kuliah itulah ia kerap mengikuti lomba puisi dan cerpen.

Hingga kini, mahasiswi Pascasarjana Program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di UIN Walisongo itu telah menorehkan banyak karya. Meskipun, baginya itu masih sedikit.

Beberapa artikel dan cerpennya yang pernah dimuat di media massa, di antaranya Santri dan Fenomena Selfie, Akibat Tidak Bersyukur, Kamuflase dalam Lebaran, Istana untuk Sholihah, Rinduku Padamu, dan Pahlawan Masa Kini.

Sementara karya-karyanya dalam bentuk buku antara lain, antologi puisi “Derai Hujan Tak Lerai”, antologi cerpen “Bukan Sekedar Nama”, cerita motivasi “Cerita Perjuanganku”, Endless Love, Love is You, Sepotong Rindu untuk Ibu, Kedai Mimpi, dan Suara Kebisingan.

Karya-karyanya itu ia selesaikan tidak mudah. Terlebih statusnya yang masih mahasiswa. Ia harus pintar-pintar membagi waktu. Rohmah mengaku terkadang sulit membagi waktunya. Terlebih jika ingin melanjutkan menulis.

“Terkadang sulit bagi waktu. Kan selain nulis, ada kuliah terus bantu penelitian dosen. Pernah saat nulis sastra tapi karena lagi nulis ilmiah jadi bahasaku alot, begitu sebaliknya. Makanya sebelum nulis, kudu baca-baca lagi,” ucap gadis kelahiran Gresik, 1999 tersebut.

Kendala menulis menurutnya salah satunya adalah munculnya ide-ide yang berbenturan. Hal itu membuatnya berpikir untuk berpindah haluan sebelum menyelesaikan karyanya. Namun akhirnya, ia pun menyelesaikannya meski membutuhkan waktu lama. Terlebih saat menulis novel, membutuhkan proses yang lama.

Rohmah mengatakan, karya-karyanya diangkat dari hal-hal di sekitarnya. Mulai dari pengalaman pribadi, realita sosial, dan cerita-cerita sahabatnya.

Dari hasil karyanya, ia mengaku memiliki kebanggaan tersendiri. Ia dapat membaca ulang karyanya untuk mengetahui kekurangannya. Selain itu, ia ingin menghasilkan karya yang lebih baik lagi. (cr2/gih)