Kudus  

Kelahiran Kretek, Rokok Khas Kudus yang Ikonik

LIHAT: Guide Novi Noor Hayati menunjukkan koleksi Museum Kretek kepada pengunjung, belum lama ini. (ANDREAN ADI FIDIANSYAH / JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kabupaten Kudus dikenal dengan sebutan Kota Kretek. Julukan ini bukan tanpa sebab. Eksistensi kretek sudah ada di wilayah ini jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Yakni di tengah kolonial Belanda. Sekitar tahun 1880-an.

Kepala UPTD Museum Kretek dan Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Yusron melalui Novi Noor Hayati selaku guide museum kretek menceritakan, lahirnya kretek berasal seorang pribumi bernama Mbah Haji Djamhari. Ia menderita sakit batuk dan asma. Berbagai pengobatan sudah dicoba. Namun, tak membuahkan hasil. Sakitnya tidak sembuh-sembuh.

Suatu ketika, Mbah Haji Djamhari mencoba mengoleskan minyak cengkeh ke dadanya. Siapa sangka, dirinya merasa batuk sesaknya berkurang. Hal tersebut selalu ia lakukan tiap kali sakitnya kambuh. Berulang-ulang.

“Dalam ceritanya, Mbah Djamhari sering mengoleskan minyak cengkeh di dadanya saat batuknya kambuh. Beliau mengklaim bahwa khasiat cengkeh bisa mengobati sakitnya. Selain itu, kebiasaan nginang juga dimanfaatkan dalam mengkonsumsi cengkeh dengan cara mencampurkan cengkeh ke nginang tersebut,” paparnya.

BERSIH: Ikon Museum Kretek Kudus.

Tidak sampai di situ. Novi menerangkan, Mbah Haji Djamhari juga mencoba cara lain dalam mengonsumsi cengkeh. Pasalnya, memakan cengkeh secara langsung rasanya tidak enak. Ia lantas mencoba mencampur cengkeh ke rokok tembakau yang saat itu telah masuk ke Kudus bersamaan datangnya bangsa-bangsa Portugis, Belanda dan lainnya. Kala itu, rokok sudah lebih dulu dikonsumsi bangsa Indian.

“Beliau mencoba membuat dengan cara tembakau dicampur dengan rajangan cengkeh, yang dibungkus dengan daun jagung atau klobot yang diikat dengan benang. Pada saat dibakar itu mengeluarkan bunyi ‘kretek kretek kretek’, dan dikenal obat rokok tersebut dengan sebutan kretek,” terangnya.

Setelah bisa menikmati cengkeh dengan cara tersebut, Mbah Haji Djamhari mengklaim bahwa batuk dan asmanya sembuh. Namun, ia memutuskan tetap membuat kretek untuk dijual.

“Setelah sembuh, Beliau jualan dengan cara mengedarkan kretek sekaligus menjelaskan khasiat yang dialaminya. Ia berjualan 10 kretek per bungkus tanpa merk yang diletakkan di atas tampah,” tuturnya.

Bisnis tersebut sangat menguntungkan bagi Mbah Haji Djamhari. Akan tetapi, tidak lama Beliau tutup usia.

“Waktu itu, hanya Beliau yang berjualan kretek. Setelah Beliau tidak ada, muncullah nama Nitisemito yang sekarang dikenal sebagai Entrepreneur kretek tersebut,” jelasnya.

Bisnis tersebut dilanjutkan Nitisemito dan dikembangkan olehnya. Rokok memang sudah ditemukan lebih dulu. Akan tetapi, kretek adalah konsumsi warga Kudus. Menjadi budaya warga kabupaten ini. Dan dikenal sebagai Kudus Kota Kretek. (cr9/ern)